Ilmu komuniakasi

Minggu, 12 April 2015

Feature Ummul Ayman Sarang Ilmu

Ummul Ayman Sarang Ilmu

Hari sabtu kami berkunjung ke Dayah Ummul Ayman (22/11/14). Jarak tempuh dari Banda Aceh sampai ke Samalanga sekitar 3 jam setengah, setelah sampai kami istirahat sejenak dirumah kawan, beberapa jam istirahat kami langsung menuju ke Dayah Ummul Ayman Samalanga. Setelah sampai kami disambut oleh seorang Ustad , setelah itu kami menayakan tentang Dayah Ummul Ayman.

“Yayasan Ummul Ayman sebuah lembaga sosial yang bergerak dibidang pendidikan dan pelayanan kesejahteraan kepada anak anak yatim dengan memberikan tiga unit pelayanan terdiri dari, unit kepantian yaitu mengakomodir anak anak yatim dengan memberikan fasilitas berupa tempat tinggal dan kebutuhan konsumsi. Dan untuk membantu tujuan tersebut, Yayasan Ummul Ayman berkordinasi dengan lembaga sosial pemerintah serta didukung oleh donator lain, unit kesekolahan yang berperan dalam memberikan pelayanan pendidikan sekolah mulai dari tingkat tsanawiah hingga tingkat ‘Aliah. Untuk hal ini, Yayasan berkordinasi dengan instansi terkait pemerintah. Disamping itu, juga ada unit kedayahan yang menangani pendidikan agama dengan metode salafiah layaknya dayah atau Dayah di Aceh. Untuk menunjang ekonomi yayasan, maka dibentuk satu unit usaha ekonomi produktif. Bagi setiap unit pelayanan, mampunyai badan kelola secara struktural dibawah pengawasan yayasan.” 
Yayasan Ummul Ayman bermula dari santunan tahunan Yatim Piatu kemesjidan Mesjid Raya Samalanga. Hampir setengah abad suatau tradisi syariah yang telah ada dan akan berlanjut adalah santunan tahunan Yatim Piatu dalam kemesjidan Mesjid Raya samalanga Kabupaten Bireuen yang biasa diadakan pada mejelang puasa Ramadhan tiap-tiap tahun.

Santunan tahunan tersebut adalah sebagai bakti social kaum wanita kemesjidan Mesjid Raya Samalanga, yang di pimpin langsung oleh Ummi, Tgk. Raja Imum dan dibantu oleh ibu-ibu PKK desa dalam Kemesjidan Mesjid Raya. Dengan partisipasi penuh dan rasa sosial yang mendalam dari masyarakat banyak, maka itu sebagai modal utama dalam acara santunan tahunan yatim piatu itu, salah satu jalan untuk memperoleh dana santuanan tahunan yang dapat menyantuni sekitar 250 anak. 

Santunan adalah diperoleh dari hasil sumbangan amal berupa padi dan uang tunai dari tiap-tiap desa dalam kemesjidan mesjid raya, dan dari donatur luar dan para pengusahawan lainnya. Adapun santuan tersebut adalah sekedar memberikan sebungkus nasi dan satu potong kain baju serta sedikit uang tunai untuk tiap-tiap anak yang disesuaikan menurut kemampuan yang ada, sebagai bukti nyata rasa kasihan dan keikutsertaan dalam perbuatan yang dianjurkan agama.
Maka dengan dilatarbelakangi kegiatan santunan tahunan tersebut timbullah satu gagasan baru Tgk. H. Nuruzzahri untuk membentuk suatu badan yang mengelola pembinaan anak yatim secara intensif dan terorganisir. 

Dengan bermodal satu unit rumah bekas yang didirikan diatas sebidang tanah waqaf untuk panti asuhan yatim piatu/ fakir miskin yang kemudian diberinama dengan Panti Asuhan Yatim Piatu/ Fakir Miskin UMMUL AYMAN Mesjid Raya Samalanga Pada 1 Muharram 1411 dan tepat pada tanggal  23 Juli 1990 yang di dirikan oleh Tgk H. Nuruzzahri.”

Kehadiran Panti Asuahan itu merupakan dambaan masyarakat umum, yang mengundang perhatian dari para dermawan dan masyarakat setempat. Mengingat pendidikan dasar agama Islam makin hari makin jauh dari linkungan masyarakat, dan untuk membentuk manusia yang beraklakul karimah, dan bermodal terampil dan mandiri, bersama ini dibuka pula satu unit pelayanan pendidikan Dayah / Dayah untuk  anak yatim tersebut dan juga anak-anak yang bukan yatim dalam satu lokasi. 

Yayasan Ummul Ayman juga lahir pada saat kondisi Aceh sedang dilanda konflik bersenjata, dengan kondisi konflik  banyak sekali menimbulkan dampak negatif dan hancurnya tatanan sosial masyarakat di berbagai aspek kehidupan terlebih lagi aspek pendidikan baik formal maupun nonformal. Hal itu ditandai dengan banyak sekali sarana pendidikan yang hancur seperti sekolah atau tenaga pendidik yang menjadi korban konflik sehingga keberlangsungan pendidikan dan sumberdaya manusia sudah sangat menurun. Bersamaan dengan itu pula banyak sekali anak anak yang kehilangan orang tua dan terlantar tanpa ada perhatian sosial yang serius dari pihak manapun.  Dalam kondisi yang sangat memprihatinkan seperti itu, kehadiran Yayasa Ummul ayman sebagai lembaga sosial sangat membantu untuk menanggulangi kondisi korban konflik serta mengantisipasi semakin lumpuhnya pendidikan serta tatanan sosial masyarakat. Dengan menampung anak anak yatim korban konflik sebagai prioritas utama dalam memberikan  pelayanan sosial.

Semenjak dari tahun 1990 sudah diterapkan pengajian dayah salafiah sebagai langkah awal memberi pelayanan pendidikan agama dengan murid dasar 25 santri yatim konflik yang berasal dari berbagai tempat di Aceh. Mereka belajar dan tidur diatas satu unit rumah tua yang diwaqaf untuk Panti Asuhan yang dalam kondisi sangat sederhana sedangkan untuk kebutuhan konsumsi dari sumbangan masyarakat sekitar.

Pada pertengahan tahun 1991 nama Ummul Ayman sudah mulai dikenal masyarakat karna pada waktu itu belum banyak panti asuhan yang yang menampung anak korban konflik sehingga bertambah sampai dengan 75 santri dalam Kecamatan Samalanga dan luar Kabupatenb bireuen, semuanya mereka diasramakan pada barak-barak darurat yang dibangun dari kayu-kayu bekas sumbangan masyarakat dan untuk kebutuhan konsumsinya ditanggung yayasaan sebagai anak panti.

Setelah kami mendengar  tentang Dayah Ummul Ayman , Kami pun minta izin dan bertrima kasih kepada Beliau yang sudah bersedia meluangkan waktu untuk kami.

Minggu, 01 Maret 2015

peliputan objek wisata lamreh


Lamreh merupakan salah satu objek wisata yang indah dengan panoramanya dan bukit-bukit yang berjajaran menghiasi indahnya pemandangan laut // Bukit ini sepertinya memang tidak cocok  jika dijadikan lahan pertanian // Itu mungkin yang menjadi alasan warga setempat untuk menjadikannya sebagai objek wisata // Banyak pengunjung yang datang untuk rekreasi tetapi pengunjung banyak mengeluh dikarenakan pasilitas yang memadai dan uang masuk yang begitu mahal.

reporter: ulil fazmi

Kamis, 26 Februari 2015

Pengaruh Televisi terhadap Sosial Masyarakat Indonesia



Televisi saat ini merupakan media massa yang “terpopuler” di kalangan masyarakat dunia terutama masyarakat Indonesia. Hampir 90 persen penduduk di negara-negara berkembang mengenal dan memanfaatkan televisi sebagai sarana hiburan, informasi, edukasi dan lain sebagainya. Televisi tidak membatasi diri hanya untuk konsumsi kalangan tertentu saja namun telah menjangkau konsumen dari semua kalangan masyarakat tak terkecuali remaja dan anak-anak. Sebuah survey yang dilakukan terhadap anak-anak di Amerika Serikat menemukan bahwa setengah dari anak-anak tersebut memiliki televisi sendiri di kamar mereka. Ini mengakibatkan sebagian besar hari mereka dihabiskan di kamar dengan menonton acara televisi. Program televisi yang makin bervariatif menyebabkan mereka melupakan kebutuhan akan pendidikan mereka. Televisi seakan magnet bagi setiap orang untuk menontonnya. Orang akan mampu melupakan kegiatannya demi menonton sebuah tayangan televisi favoritnya. Inilah salah satu dampak buruk dari sekian dampak buruk televisi bagi masyarakat kita.
Televisi sebagai media massa  sebagai perangkat sosial yang berpengaruh besar terhadap kesehatan sosial masyarakat. Kehidupan sosial masyarakat yang semula tradisional berubah cepat menjadi modern akibat modernisasi yang dibawa oleh televisi. Tak terbatasnya dunia komunikasi massa melalui media massa seperti televisi mengantarkan masyarakat pada arus perubahan peradaban yang cepat. Televisi saat ini seakan menjadi guru elektronik yang mengatur dan mengarahkan serta menciptakan budaya massa baru. Tayangan program televisi seperti reality show, infotainment, sinetron, film bahkan iklan sekalipun turut serta mengatur dan mengubah life style di masyarakat. Informasi yang diberikan televisi seperti program berita tentang politik, budaya, ekonomi maupun sosial masyarakat dari suatu negara layaknya hanya hiburan dan permainan publik belaka. Kenyataan di dalamnya telah diubah dengan “sesuatu” yang maya. Namun tak sedikit pula pemerhati acara televisi yang “sehat” menemukan dampak positif dari tayangan televisi. Televisi juga bisa dijadikan sebagai sarana edukasi dan informasi. Kita bisa mengetahui berita dari belahan bumi manapun dengan cepat melalui televisi. Namun pada kenyataannya semua itu hanya kepentingan politik dan “matreisme” dari kalangan tertentu belaka. Televisi tetap menjadi suatu kenyataan yang semu bagi kita semua. Semua ini membuktikan kalau media televisi sudah semakin “parah” mempengaruhi kerja otak masyarakat.
Pengaruh Televisi terhadap Kesehatan Sosial Masyarakat Indonesia

Televisi sebagai media massa dalam komunikasi massa tidak terlepas dari dampak yang terjadi di masyarakat. Pengaruh-pengaruh televisi bisa berarti sebagai efek komunikasi massa. Donald K. Robert (Schramm dan Roberts: 1977) menyatakan bahwa efek ini hanyalah perubahan perilaku masyarakat setelah merekam pesan media massa. Berarti fokusnya pada pesan yang dibawa media. Beda halnya dengan McLuhan yang berpendapat bahwa efek yang timbul adalah medianya itu sendiri. “The medium is the message”. Media massa sendiri adalah pesan jadi yang mempengaruhi kita bukanlah pesan yang disampaikan media melainkan medianya itu sendiri. Namun tetap saja bahwa kehadiran media massa baik itu fisisnya maupun isinya membawa pengaruh atau efek bagi masyarakat. Efek-efek tersebut disebutkan oleh Steven H. Chaffee dalam lima poin yaitu efek ekonomis, efek sosial, efek pada penjadwalan kegiatan, efek pada penyaluran/penghilangan perasaan tertentu dan efek perasaan orang terhadap media. Berdasarkan teori uses and gratification, perbedaan motif dalam konsumsi media massa juga menyebabkan kita bereaksi pada media massa secara berbeda pula. Teori ini setidaknya menjelaskan bahwa masyarakat kebanyakan menggunakan media massa sebagai pemuas kebutuhan. Karena sifatnya hanya memenuhi keinginan nafsu tanpa disertai pemikiran yang mendalam, pengaruh-pengaruh mediapun mudah masuk ke dalam pikiran masyarakat.
Televisi baik bila berfungsi sebagai media komunikasi, informasi, budaya dan pendidikan. Namun televisi menjadi sesuatu yang kontroversial ketika dihadapkan pada kepentingan bisnis yang berpengaruh buruk bagi masyarakat. Acara atau program yang ditayangkan televisi punya pengaruh baik dan tidak baik bagi pemirsa. Berbagai persepsi dan perspektif akan muncul pada diri masyarakat setelah menonton sebuah acara televisi. Banyak riset yang dilakukan di banyak negara menemukan pengaruh buruk televisi terhadap kesehatan sosial masyarakat. Indonesia sebagai negara yang berkembang, mempunyai arus komunikasi yang seakan tak terbatas keluar masuk ke dan dari masyarakat. Pengaruh negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika juga turut serta di dalamnya. Informasi dan komunikasi tersebut sampai ke masyarakat melalui televisi. Tayangan televisi pun semakin berani dengan hadir 24 jam non stop. Dapat dipastikan apa yang telah dibawa oleh pesan televisi baik yang positif maupun negatif terserap lebih dari setengahnya oleh masyarakat kita.

1. Pengaruh positif televisi bagi masyarakat
Kembali ke fungsi utama televisi yaitu sebagai media komunikasi dan informasi. Televisi sejatinya hadir untuk menghibur, mendidik, dan mengarahkan pemirsa ke arah yang baik. Beberapa sisi positif televisi adalah sebagai berikut:
a.       Televisi sebagai penghibur pemirsa
Sejatinya, televisi merupakan salah satu media massa yang berfungsi sebagai penghibur. Dalam diri manusia terdapat ID, ego dan super ego yang mendorong manusia untuk memenuhi kebutuhannya termasuk kebutuhan akan hiburan. Kehadiran program-program televisi yang menghibur sangat diperlukan untuk melepas stress sejenak setelah seharian bekerja atau belajar. Setidaknya hiburan itu dapat me-refresh otak dari permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam sehari. Bagi masyarakat Indonesia sendiri arti kebersamaan sangat penting. Dengan adanya televisi, kebersamaan itu bisa diwujudkan dengan menonton program hiburan televisi yang ‘sehat’ secara bersama. Mereka bisa tertawa bersama, bercanda bersama mengomentari apa yang ada dalam tayangan dan ini sangat baik untuk kesehatan sosial masyarakat Indonesia. Program televisi seperti acara komedi, sinetron dan film yang menghibur sangat dinanti masyarakat kita.
b.      Televisi sebagai media informasi, pengetahuan dan pendidikan
Prilaku manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah faktor sosiogenesis. Rasa ingin tahu merupakan salah satu motif sosiogenesis yang ada dalam diri manusia dan mempengaruhi tingkah laku mereka. Televisi sebagai media massa juga memiliki fungsi sebagai media penyampai informasi. Program televisi seperti news, infotainment, bahkan talk show mampu memberikan informasi yang sekiranya diperlukan oleh pemirsa televisi. Indonesia sebagai Negara yang sedang berkembang, informasi dari berbagai belahan dunia sangat dibutuhkan oleh masyarakat kita. secara tidak langsung informasi itu dapat meningkatkan intelektual masyarakat sehingga mampu meningkatkan potensi sumber daya manusia Indonesia itu sendiri. Dengan hadirnya televisi dunia seakan semakin sempit. Berbagai berita criminal, politik, sosial dan budaya dari dalam maupun luar negeri bisa sampai ke masyarakat dengan mudah. Informasi tersebut bahkan bisa disaksikan langsung oleh pemirsa melalui tayangan live.
Selain memberi informasi, televisi juga bisa bermanfaat sebagai sarana edukasi bagi pemirsa khususnya para pelajar dan anak-anak yang sedang dalam tahap perkembangan. Acara kuis, program bimbingan rohani, talk show pendidikan atau bidang pengetahuan lain sangat berguna bagi masyarakat kita. bagi sebagian orang yang memiliki pola belajar audio visual, menonton televisi bisa dijadikan sebagai alternatif pembelajaran. Tentunya program televisi itu haruslah benar-benar mendidik dan tidak ada unsur –unsur di dalamnya yang dapat merugikan pemirsa.
c.       Televisi sebagai media aksi sosial masyarakat Seperti yang disebutkan dalam point b, sisi positif dari televisi yaitu sebagai media informasi. Berbagai macam informasi disampaikan televisi melalui program news, talk show, reality show, infotainment salah satunya menyangkut berita sosial. Keadaan sosial dari seluruh Indonesia dapat diketahui pemirsa di rumah. Kemiskinan, kelaparan penderitaan saudara-saudara kita di televisi seakan bisa kita rasakan walau posisi kita secara nyata berjauhan. Ini membuktikan bahwa televisi juga bisa berguna untuk menggugah kesadaran sosial masyarakat.
Ketika bencana tsunami terjadi di Aceh pada desember 2004 banyak stasiun-stasiun yang menayangkan kejadian tersebut. Pemirsa yang menyaksikan kejadian tersebut secara tidak langsung melalui televisi pasti akan tergugah hatinya untuk ikut merasakan kepedihan yang dirasakan masyarakat Aceh yang terkena dampak dari tsunami. Sebagian besar bahkan semua stasiun televisi Indonesia, dalam iklan baris maupun iklan full screen mengajak pemirsa untuk ikut berpartisipasi dalam program bantuan yang akan diberikan kepada korban tsunami di Aceh. Dari contoh tersebut dapat kita simpulkan bahwa televisi juga berpengaruh positif terhadap kesehatan sosial masyarakat Indonesia.
2.      Pengaruh buruk televisi bagi masyarakat
Sebagai masyarakat komunikasi dan masyarakat sosial, manusia tidak mungkin hidup sendiri. Baik dan buruk pasti berdampingan. Seperti halnya televisi, pengaruh baik bagi masyarakat memang banyak ditemukan tetapi tidak sedikit pula pengaruh buruk televisi bagi masyarakat kita. apalagi di zaman sekarang ini di mana dunia bisnis seakan menjadi nomer satu di jagat raya terutama di Indonesia. Money oriented merasuk di seluruh lapisan masyarakat. Prinsip ekonomi ‘meraih keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya’ seakan diagung-agungkan oleh pebisnis dalam negeri kita. Tidak dapat dipungkiri televisi juga menjadi salah satu ladang meraup keuntungan rupiah sebanyak-banyaknya oleh pemilik dan para investornya. Jika sudah menyangkut masalah ekonomi, apalagi yang menjadi fokus adalah uang, maka segala cara akan dilakukan untuk mencapainya.
Dalam bisnis televisi, hal tersebut dapat dicapai dengan membuat program atau acara yang menarik banyak pemirsa sehingga banyak iklan yang akan bekerja sama. Untuk dapat menarik pemisa sebanyak-banyaknya tidaklah mudah, survey langsung ke masyarakat sangat perlu dilakukan sebagai tes apakah program itu akan berhasil atau tidak. Survey bisa dilakukan secara besar-besaran yang mengahabiskan banyak uang atau hanya cukup mensurvey beberapa kelompok kecil saja. Namun kembali pada prinsip ekonomi yang mengajarkan kita untuk pelit tapi dapat banyak, hal itu tidak munkin dilakukan. Maka sebagai jalan pintas, para insan televisi membuat program ringan yang sekiranya mencerminkan kehidupan masyarakat sehingga bisa menarik penonton. Karena dibuat dengan latar belakang uang maka segala peraturan dan kode etik penyiaranpun dikesampingkan. Padahal kode etik itu setidaknya melindungi masyarakat dari program yang merugikan mereka sendiri.
3.      Pengaruh-pengaruh buruk televisi bagi masyarakat Indonesia adalah sebagai berikut:
a.       Televisi merusak moral dan budaya masyarakat.
            Jika kita perhatikan akhir-akhir ini di televisi Indonesia banyak ditayangkan sinetron, film televisi (FTV) maupun drama mini seri yang menceritakan kehidupan percintaan dan perebutan harta. Di SCTV misalnya, entah pagi, siang atau malam, ditayangkan FTV remaja yang menampilkan kehidupan anak SMA dengan baju abu-abu putih minim yang menujukkan bahwa mereka modis dan mengikuti tren yang sedang booming. Diceritakan juga hubungan cinta segitiga antara cowok cakep, cewek kaya yang cantik dan modis, dan cewek biasa saja. Dalam cerita itu si cowok menyukai cewek biasa saja tetapi si cewek kaya tidak terima karena dia menyukai si cowok tersebut. Akhirnya segala cara dilakukan untuk memisahkan mereka termasuk melukai si cewek biasa. Hal ini secara tidak langsung mempengaruhi pemikiran remaja kita bahwa masa remaja lebih asyik diisi dengan keglamoran, shopping, percintaan, persaingan yang tidak sehat serta hal-hal negatif lainnya dan menjauhkan mereka dari tugasnya sebagai pelajar dan generasi bangsa ini. Semakin mereka sering menonton sinetron atau FTV seperti itu, semakin terikat mereka dengan ceritanya dan melupakan siapa mereka sebenarnya sehingga mereka tidak percaya diri menjadi dirinya sendiri. Sebagai generasi penerus bangsa, sejatinya mereka mempersiapkan masa depan dengan belajar dan bersikap yang baik.
Televisi juga membentuk budaya malas. Banyak orang yang rela duduk berjam-jam lamanya hanya karena menonton tayangan favoritnya. Para remaja, orang tua, anak-anak tidak laki-laki saja tetapi juga perempuan rela bergadang demi tayangan langsung sepak bola klub-klub besar Eropa. Remaja putri rela membolos demi menyaksikan penampilan actor atau aktris favoritnya di televisi. Anak-anak kehilangan jam tidur siangnya karena menonton kartun siang. Ibu-ibu lupa menyiapkan makan siang karena sudah terpaku di depan acara infotainment. Semua itu bentuk-bentuk kemalasan yang dibentuk oleh televisi. Terlalu sering menonton televisi menyebabkan kinektisitas berkurang sehingga berakibat pada kegemukan. Selain itu kualitas kerja kita juga turun. Sungguh potret sosial masyarakat yang tidak sehat. Jika hal seperti ini terus-terusan dibiarkan maka masa depan bangsa perlu dipertanyakan akan seperti apa.
Tidak hanya itu, arus globalisasi dan westernisasi juga melaju deras lewat televisi. Budaya barat yang identik dengan kebebasan dalam segala hal tanpa toleransi sesama sudah merasuki pemikiran masyarakat Indonesia. Banyak pengaruh yang dibawa globalisasi barat ke Negara ini namun entah kenapa banyak pengaruh negatif yang diserap masyarakat dari pada pengaruh positifnya. Mungkin karena kelihaian Barat dalam mengkamuflasekan budayanya atau karena ketidaksiapan bangsa Indonesia menghadapi perubahan yang cepat. Banyak budaya ketimuran yang sopan mulai tergeser. Seni-seni tradisional bangsa sudah tidak berkibar lagi di seluruh negeri diganti dengan seni-seni barat yang terkesan bebas, erotis dan realis sekali.
Jika yang terjadi di Negara Indonesia kita tercinta seperti ini, bukan tidak mungkin moral dan budaya asli masyarakat Indonesia untuk beberapa tahun ke depan akan benar-benar luntur. Dan televisi patut dipersalahkan dalam hal ini.
b.      Televisi menyita banyak waktu yang berharga
Jika kita kembali pada masa 10 sampai 20 tahun yang lalu, televisi hanya dimiliki oleh kalangan tertentu saja. Stasiun televisi juga masih sedikit. Mungkin televisi pada zaman nenek kita hanya ada satu channel yaitu TVRI. Program acaranyapun masih sedikit dan masih dalam taraf wajar-wajar saja. Tapi lihat di zaman sekarang. Televisi dipunyai hampir tiap keluarga bahkan ada keluarga yang melengkapi tiap kamar dengan satu televisi. Banyak stasiun televisi swasta nasional maupun lokal berdiri dengan menyuguhkan banyak program yang makin bervariatif. Acaranyapun tidak tanggung-tanggung, 24 jam non stop. Sinetron-sinetron tayang setiap hari dan menjamur dalam sehari mulai pagi, siang, sore, malam bahkan tengah malampun sinetron masih tayang di salah satu televisi swasta nasional. Coba kita ingat masa kecil kita, sinetron hanya tayang satu kali dalam seminggu. Itupun masih jarang.
Semua itu menyebabkan pemirsa makin diamanjakan sehingga makin betah melototi televisi berjam-jam dalam sehari. Jika dulu kebanyakan orang hanya menonton satu jam acara saja, tetapi sekarang program-program unggulan televisi ditayangkan secara estafet sehingga pemirsa mampu menghabiskan lima sampai enam jam bahkan ada yang 10 jam non stop hanya menonton televisi saja. Coba bayangkan berapa banyak waktu berharga dalam sehari yang sudah terbuang. Remaja yang seharusnya belajar jam tujuh malam berpaling ke sinetron televisi. Ibu-ibu yang harus ke pasar pagi-pagi rela menundanya demi satu acara gossip. Anak-anak malas ke sekolah karena harus menonton kartun kesayangannya. Yang lebih parah lagi, banyak di antara masyarakat Indonesia melalaikan ibadahnya karena tertancap pada saluran televisi favoritnya. Sungguh potret kehidupan sosial yang tidak sehat dan televisi adalah penyebabnya.
c.       Televisi merusak perkembangan otak manusia
            Program acara yang bervariatif, makin memisahkan segmen-segmen konsumennya menimbulkan banyak pengaruh. Meskipun acara televisi sudah dipisah menurut segmen-segmennya, tetap saja tayangannya masih bisa dinikmati banyak kalangan umur. Acara kartun misalnya, memiliki banyak segmen yaitu dari anak-anak, remaja bahkan dewasapun masih ada yang menonton program yang satu ini. Kartun yang sejatinya untuk anak-anak kini didesain sedemikian rupa untuk konsumsi dewasa sehingga anak-anak yang merasa itu tontonannya pun ikut menontonnya. Padahal pesan yang disampaikan banyak mengandung unsur kekerasan. Hal ini menyebabkan otak mereka terangsang untuk membentuk pribadi yang mengedepankan kekerasan dalam menghadapi masalah. Tidak hanya itu, kekerasan yang mereka tontonpun bisa mereka praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Berkelahi sesama teman menjadi sesuatu yang biasa. Jika kita ingat di pertengahan tahun 2007 kemarin, sebuah tanyangan kekerasan orang dewasa yaitu Smack Down tayang di salah satu televisi swasta nasional Indonesia dan mengakibatkan anak-anak terpengaruh. Merekapun mempraktekkannya sesama teman, beradu otot sampai-sampai memakan korban jiwa.
            Tidak hanya anak-anak, remaja, dan orang dewasa saja yang terkena dampak buruk televisi, bayi di bawah umur lima tahunpun juga terkena dampaknya. Melihat banyaknya pengaruh buruk pertelevisian Indonesia saat ini bagi kesehatan sosial masyarakat kita, pemerintah hendaknya mulai berlaku tegas kepada para pemilik acara televisi agar tidak berakibat fatal pada perkembangan peradaban masyarakat Indonesia sendiri.

kesimpulan
1.      Televisi sebagai media massa merupakan sarana komunikasi massa yang tidak terlepas dari efek-efek bagi masyarakat sebagai komunikan itu sendiri.
2.      Televisi mempunyai pengaruh positif dan negatif bagi kesehatan sosial masyarakat Indonesia.
3.      pengaruh positif televisi di antaranya yaitu, televisi sebagai penghibur pirsawan, sebagai media informasi, pengetahuan dan pendidikan serta sebagai media aksi sosial masyarakat.
4.      pengaruh negatif televisi yaitu diantaranya merusak moral dan budaya bangsa, menghabiskan banyak waktu berharga dan merusak perkembangan otak manusia.


Sumber:
Rakhmat, Jalaluddin. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005.
Dennis McQuail. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : Suatu Pengantar, Erlangga,1987.

William R. Rivers at.al.Media Massa dan Masyarakat Modern. Jakarta: Edisi Kedua, Prenada Media, 2003.