Ummul Ayman
Sarang Ilmu
Hari sabtu
kami berkunjung ke Dayah Ummul Ayman (22/11/14). Jarak tempuh dari Banda Aceh sampai
ke Samalanga sekitar 3 jam setengah, setelah sampai kami istirahat sejenak
dirumah kawan, beberapa jam istirahat kami langsung menuju ke Dayah Ummul Ayman
Samalanga. Setelah sampai kami disambut oleh seorang Ustad , setelah itu kami menayakan tentang Dayah Ummul Ayman.
“Yayasan Ummul Ayman sebuah lembaga
sosial yang bergerak dibidang pendidikan dan pelayanan kesejahteraan kepada
anak anak yatim dengan memberikan tiga unit pelayanan terdiri dari, unit
kepantian yaitu mengakomodir anak anak yatim dengan memberikan fasilitas berupa
tempat tinggal dan kebutuhan konsumsi. Dan untuk membantu tujuan tersebut,
Yayasan Ummul Ayman berkordinasi dengan lembaga sosial pemerintah serta
didukung oleh donator lain, unit kesekolahan yang berperan dalam memberikan
pelayanan pendidikan sekolah mulai dari tingkat tsanawiah hingga tingkat
‘Aliah. Untuk hal ini, Yayasan berkordinasi dengan instansi terkait pemerintah.
Disamping itu, juga ada unit kedayahan yang menangani pendidikan agama dengan
metode salafiah layaknya dayah atau Dayah di Aceh. Untuk menunjang ekonomi
yayasan, maka dibentuk satu unit usaha ekonomi produktif. Bagi setiap unit
pelayanan, mampunyai badan kelola secara struktural dibawah pengawasan yayasan.”
Yayasan Ummul Ayman bermula dari
santunan tahunan Yatim Piatu kemesjidan Mesjid Raya Samalanga. Hampir setengah
abad suatau tradisi syariah yang telah ada dan akan berlanjut adalah santunan
tahunan Yatim Piatu dalam kemesjidan Mesjid Raya samalanga Kabupaten Bireuen
yang biasa diadakan pada mejelang puasa Ramadhan tiap-tiap tahun.
Santunan tahunan tersebut adalah
sebagai bakti social kaum wanita kemesjidan Mesjid Raya Samalanga, yang di
pimpin langsung oleh Ummi, Tgk. Raja Imum dan dibantu oleh ibu-ibu PKK desa
dalam Kemesjidan Mesjid Raya. Dengan partisipasi penuh dan rasa sosial yang
mendalam dari masyarakat banyak, maka itu sebagai modal utama dalam acara
santunan tahunan yatim piatu itu, salah satu jalan untuk memperoleh dana
santuanan tahunan yang dapat menyantuni sekitar 250 anak.
Santunan adalah diperoleh dari hasil
sumbangan amal berupa padi dan uang tunai dari tiap-tiap desa dalam kemesjidan
mesjid raya, dan dari donatur luar dan para pengusahawan lainnya. Adapun
santuan tersebut adalah sekedar memberikan sebungkus nasi dan satu potong kain
baju serta sedikit uang tunai untuk tiap-tiap anak yang disesuaikan menurut
kemampuan yang ada, sebagai bukti nyata rasa kasihan dan keikutsertaan dalam
perbuatan yang dianjurkan agama.
Maka dengan dilatarbelakangi
kegiatan santunan tahunan tersebut timbullah satu gagasan baru Tgk. H.
Nuruzzahri untuk membentuk suatu badan yang mengelola pembinaan anak yatim
secara intensif dan terorganisir.
Dengan bermodal satu unit rumah
bekas yang didirikan diatas sebidang tanah waqaf untuk panti asuhan yatim
piatu/ fakir miskin yang kemudian diberinama dengan Panti Asuhan Yatim Piatu/
Fakir Miskin UMMUL AYMAN Mesjid Raya Samalanga Pada 1 Muharram 1411 dan tepat
pada tanggal 23 Juli 1990 yang di dirikan oleh Tgk H. Nuruzzahri.”
Kehadiran Panti Asuahan itu
merupakan dambaan masyarakat umum, yang mengundang perhatian dari para dermawan
dan masyarakat setempat. Mengingat pendidikan dasar agama Islam makin hari
makin jauh dari linkungan masyarakat, dan untuk membentuk manusia yang
beraklakul karimah, dan bermodal terampil dan mandiri, bersama ini dibuka pula
satu unit pelayanan pendidikan Dayah / Dayah untuk anak yatim tersebut
dan juga anak-anak yang bukan yatim dalam satu lokasi.
Yayasan Ummul Ayman juga lahir pada
saat kondisi Aceh sedang dilanda konflik bersenjata, dengan kondisi konflik
banyak sekali menimbulkan dampak negatif dan hancurnya tatanan sosial
masyarakat di berbagai aspek kehidupan terlebih lagi aspek pendidikan baik
formal maupun nonformal. Hal itu ditandai dengan banyak sekali sarana
pendidikan yang hancur seperti sekolah atau tenaga pendidik yang menjadi korban
konflik sehingga keberlangsungan pendidikan dan sumberdaya manusia sudah sangat
menurun. Bersamaan dengan itu pula banyak sekali anak anak yang kehilangan
orang tua dan terlantar tanpa ada perhatian sosial yang serius dari pihak manapun.
Dalam kondisi yang sangat memprihatinkan seperti itu, kehadiran Yayasa
Ummul ayman sebagai lembaga sosial sangat membantu untuk menanggulangi kondisi
korban konflik serta mengantisipasi semakin lumpuhnya pendidikan serta tatanan
sosial masyarakat. Dengan menampung anak anak yatim korban konflik sebagai
prioritas utama dalam memberikan pelayanan sosial.
Semenjak dari tahun 1990 sudah
diterapkan pengajian dayah salafiah sebagai langkah awal memberi pelayanan
pendidikan agama dengan murid dasar 25 santri yatim konflik yang berasal dari
berbagai tempat di Aceh. Mereka belajar dan tidur diatas satu unit rumah tua
yang diwaqaf untuk Panti Asuhan yang dalam kondisi sangat sederhana sedangkan
untuk kebutuhan konsumsi dari sumbangan masyarakat sekitar.
Pada pertengahan tahun 1991 nama
Ummul Ayman sudah mulai dikenal masyarakat karna pada waktu itu belum banyak
panti asuhan yang yang menampung anak korban konflik sehingga bertambah sampai
dengan 75 santri dalam Kecamatan Samalanga dan luar Kabupatenb bireuen, semuanya
mereka diasramakan pada barak-barak darurat yang dibangun dari kayu-kayu bekas
sumbangan masyarakat dan untuk kebutuhan konsumsinya ditanggung yayasaan
sebagai anak panti.
Setelah kami
mendengar tentang Dayah Ummul Ayman , Kami pun minta izin
dan bertrima kasih kepada Beliau yang sudah bersedia meluangkan waktu untuk
kami.