A. Pengertian Kounikasi Nonverbal
Komunikasi nonverbal adalah proses komunikasi dimana pesan disampaikan tidak menggunakan kata-kata. Contoh komunikasi nonverbal ialah menggunakan gerak isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah dan kontak mata, penggunaan objek seperti pakaian, potongan rambut, dan sebagainya, simbol-simbol, serta cara berbicara seperti intonasi, penekanan, kualitas suara, gaya emosi, dan gaya berbicara.
Para ahli di bidang komunikasi nonverbal biasanya menggunakan definisi "tidak menggunakan kata" dengan ketat, dan tidak menyamakan komunikasi non-verbal dengan komunikasi nonlisan. Contohnya, bahasa isyarat dan tulisan tidak dianggap sebagai komunikasi nonverbal karena menggunakan kata, sedangkan intonasi dan gaya berbicara tergolong sebagai komunikasi nonverbal. Komunikasi nonverbal juga berbeda dengan komunikasi bawah sadar, yang dapat berupa komunikasi verbal ataupun nonverbal.
B. Karakteristik Komunikasi Nonverbal
Salah satu cara mendefinisikan komunikasi nonverbal adalah berdasarkan kategori sebagai berikut teori pemilihan umum dalam karakteristik komunikasi kelompok apapun fungsi yang disandangnya, baik primer maupun sekunder nonverbal, isyarat badaniah (gestural), bergambar (pictorial) karakteristik komunikasi perasaan-perasaan (emosi kita) melalui pesan-pesan nonverbal.
Komunikasi nonverbal merupakan salah satu bentuk media komunikasi yang berupa mengemas pesan nonverbal dengan cara yang tepat sesuai dengan karakteristik.
Beberapa karakteristik dari komunikasi nonverbal adalah:
1. Kita selalu berkomunikasi
2. Arti tergantung kepada konteks
3. Komunikasi nonverbal lebih dapat dipercaya
4. Cara utama dalam menyatakan perasaan dan sikap
C. Bentuk Komunikasi Nonverbal
Bentuk-bentuk komunikasi nonverbal terdiri dari tujuh macam yaitu:
1. Komunikasi visual
Komunikasi visual merupakan salah satu bentuk komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan berupa gambar-gambar, grafik-grafik, lambang-lambang, atau simbol-simbol.
Dengan menggunakan gambar-gambar yang relevan, dan penggunaan warna yang tepat, serta bentuk yang unik akan membantu mendapat perhatian pendengar. Dibanding dengan hanya mengucapkan kata-kata saja, penggunaan komunikasi visual ini akan lebih cepat dalam pemrosesan informasi kepada para pendengar.
2. Komunikasi sentuhan
Ilmu yang mempelajari tentang sentuhan dalam komunikasi nonverbal sering disebut Haptik. Sebagai contoh: bersalaman, pukulan, mengelus-ngelus, sentuhan di punggung dan lain sebagainya merupakan salah satu bentuk komunikasi yang menyampaikan suatu maksud/tujuan tertentu dari orang yang menyentuhnya.
3. Komunikasi gerakan tubuh
Kinesik atau gerakan tubuh merupakan bentuk komunikasi nonverbal, seperti, melakukan kontak mata, ekspresi wajah, isyarat dan sikap tubuh. Gerakan tubuh digunakan untuk menggantikan suatu kata yang diucapkan. Dengan gerakan tubuh, seseorang dapat mengetahui informasi yang disampaikan tanpa harus mengucapkan suatu kata. Seperti menganggukan kepala berarti setuju.
Contoh:
- isyarat tangan
- gerakan kepala
4. Komunikasi lingkungan
Lingkungan dapat memiliki pesan tertentu bagi orang yang melihat atau merasakannya. Contoh: jarak, ruang, temperatur dan warna. Ketika seseorang menyebutkan bahwa”jaraknya sangat jauh”, ”ruangan ini kotor”, ”lingkungannya panas” dan lain-lain, berarti seseorang tersebut menyatakan demikian karena atas dasar penglihatan dan perasaan kepada lingkungan tersebut.
5. Komunikasi penciuman
Komunikasi penciuman merupakan salah satu bentuk komunikasi dimana penyampaian suatu pesan/informasi melalui aroma yang dapat dihirup oleh indera penciuman. Misalnya aroma parfum bulgari, seseorang tidak akan memahami bahwa parfum tersebut termasuk parfum bulgari apabila ia hanya menciumnya sekali.
6. Komunikasi penampilan
Seseorang yang memakai pakaian yang rapi atau dapat dikatakan penampilan yang menarik, sehingga mencerminkan kepribadiannya. Hal ini merupakan bentuk komunikasi yang menyampaikan pesan kepada orang yang melihatnya. Tetapi orang akan menerima pesan berupa tanggapan yang negatif apabila penampilannya buruk (pakaian tidak rapih, kotor dan lain-lain).
7. Komunikasi cita rasa
Komunikasi citrasa merupakan salah satu bentuk komunikasi, dimana penyampaian suatu pesan/informasi melalui citrasa dari suatu makanan atau minuman. Seseorang tidak akan mengatakan bahwa suatu makanan/minuman memiliki rasa enak, manis, lezat dan lain-lain, apabila makanan tersebut telah memakan/meminumnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa citrasa dari makanan/minuman tadi menyampaiakan suatu maksud atau makna.
D. Fungsi Komunikasi Nonverbal
Komunikasi nonverbal dapat menjalankan fungsi penting. Periset nonverbal mengindentifikasi enam fungsi utama (ekman, 1965; Knapp, 1978).
1. Untuk menekankan
Kita menggunakan komunikasi nonverbal untuk menonjolkan atau menekankan bagian dari pesan verbal. Misalnya saja, mungkin tersenyum untuk menekankan kata atau ungkapan tertentu, atau dapat memukulkan tangan ke meja untuk menekankan suatu hal tertentu.
2. Untuk melengkapi atau Complement
Untuk memperkuat warna atau sikap umum yang dikomunikasikan oleh pesan verbal. Jadi, anda mungkin tersenyum ketika menceritakan kisah lucu atau menggeleng-gelengkan kepala ketika menceritakan ketidak jujuran seseorang.
3. Untuk menunjukkan kontradiksi
Kita secara sengaja mempertentangkan pesan verbal kita dengan gerakan nonverbal. Contohnya anda dapat menyilangkan jari anda atau mengedipkan mata untuk menunjukkan bahwa apa yang anda katakan tidak benar.
4. Untuk mengatur
Gerak-gerik nonverbal dapat mengendalikan atau mengisyaratkan keinginan anda untuk mengatur arus pesan verbal. Mengerutkan bibir, mencondongkan badan kedepan atau membuat gerakan tangan untuk menunjukkan bahwa anda ingin mengatakan sesuatu merupakan contoh-contoh dari fungsio mengatur ini. Anda mungkin juga mengangkat tangan anda atau meyuarakan jeda contoh menggunakan kata “emm” untuk memperlihatkan bahwa anda belum selesai bicara.
5. Untuk mengulangi
Kita dapat mengulangi atau merumuskan ulang makna dari pesan verbal. Misalnya, anda dapat menyertai pernyataan verbal “apa benar?” dengan mengangkat alis mata anda atau anda dapat menggerakkan kepala atau tangan untuk mengulangi pesan verbal “ayo kita pergi”
6. Untuk menggantikan
Komunkasi nonverbal juga dapat menggantikan pesan verbal. Misalnya, “oke” dengan tangan anda tanpa berkata apa-apa. Anda dapat menganggukan kepala untuk mengatakan “iya” atau menggelengkan kepala untuk mengatakan “tidak”.
E. Perilaku Nonverbal dalam kehidupan sehari-hari
Pada tahun 1972 Wiener, Devoe, Rubinow, dan Geller menulis sebuah artikel penting berpendapat bahwa kebanyakan penelitian dimasa lalu menyamakan perilaku nonverbal dengan komunikasi verbal. Perhatian utamanya ialah ada pihak penerima atau reciever dan arti yang diberikannya bagi perilaku nonverbal. Para penulis ini memiliki keprihatinan karena pendekatan-pendekatan psikologis cenderung menganggap setiap perilaku nonverbal yang diberi arti tertentu oleh pihak penerima menjadi komunikatif. Setiap kali orang menyilangkan kakinya tidaklah berarti orang itu mengkomunikasikan sesuatu. Secara analogis, para penulis menunjukkan bahwa hanya karena seseorang menyimpulkan sekelompok awan tebal dan hitam merupakan isyarat turunnya hujan, tidaklah berarti awan itu berkomunikasi akan turunnya hujan. Komunikasi nonverbal merupakan bagian dari perilaku nonverbal dan terjadi apabila perilaku-perilaku nonverbal dapat ditafsirkan dalam konteks sosial mengenai bahasa yang berlaku.
Secara psikologis, perilaku-perilaku nonverbal ditafsirkan sebagai ekspresi keadaan individu seperti emosi individu. Orang merasa sedih yaitu sebagai emosi internal, dan oleh karena itu ia menangis yaitu sebagai perilaku nonverbal. Ia merasa bahagia, maka ia tersenyum. Dalam komunikasi antar pribadi para komunikator menginterpretasikan masing-masing perilaku nonverbal pihak lain sebagai ”pesan-pesan” yang dikeluarkan atau disampaikan seseorang untuk memberikan kepada pihak lain apa yang ia rasakan
F. Isyarat Pengenalan Diri Dalam Komunikasi nonverbal
1. Komunikasi Tubuh
Jalan pertama di antara semua jalan komunikasi nonverbal adalah tubuh. Manusia mengkomunikasikan pikiran dan perasaannya seringkali dan secara akurat melalui gerakan-gerakan tubuh, gerakan wajah, dan gerakan mata. Dalam unit ini kita mengamati komunikasi tubuh dan menelaah berbagai cara di mana tubuh, wajah, dan mata mengkomunikasikan makna-makna.
Untuk membahas gerakan tubuh, klasifikasi yang ditawarkan oleh Paul Ekman dan Wallace V. Friesen (1969) sangat berguna. Kedua periset ini membedakan lima kelas (kelompok) gerakan nonverbal berdasarkan asal-usul, fungsi, dan kode perilaku ini:
a. Komunikasi Gestura yang meliputi:
1) Emblim (emblems)
Emblim adalah perilaku nonverbal yang secara langsung menerjemahkan kata atau ungkapan. Emblim meliputi, misalnya; isyarat untuk “oke.” “jangan ribut,” “kemarilah,” dan saya ingin menumpang.” Emblim adalah pengganti nonverbal untuk kata-kata atau ungkapan tertentu. Kita barangkali mempelajarinya dengan cara yang pada dasarnya sama dengan kita mempelajari kata-kata – tanpa sadar, dan sebagian besar melalui proses peniruan. Walaupun emblim bersifat alamiah dan bermakna, mereka mempunyai kebebasan makna seperti sebarang kata apa pun dalam sebarang bahasa. Oleh karenanya, emblim dalam kultur kita sekarang belum tentu sama dengan emblim dalam kultur kita 300 tahun yang lalu atau dengan emblim dalam kultur lain.
2) Ilustrator
Ilustrator adalah perilaku nonverbal yang menyertai dan secara harfiah “mengilustrasikan” pesan verbal. Dalam mengatakan “Ayo, bangun,” misalnya, anda mungkin menggerakkan kepala dan tangan anda ke arah menaik. Dalam menggambarkan lingkaran atau bujur sangkar anda mungkin sekali membuat gerakan berputar atau kotak dengan anda. Ilustrator bersifat lebih alamiah, kurang bebas. Dan lebih universal ketimbang emblem. Mungkin sekali ilustrator ini mengandung komponen-komponen yang sudah dibawa sejak lahir selain juga yang dipelajari.
3) Regulator
Regulator adalah perilaku nonverbal yang “mengatur,” memantau, memelihara, atau mengendalikan pembicaraan orang lain. Ketika anda mendengarkan orang lain, anda tidak pasif. menganggukkan kepala, mengerutkan bibir, menyesuaikan fokus mata, dan membuat berbagai suara para linguistik seperti “mm-mm” atau “tsk.” Regulator jelas terikat pada kultur dan tidak universal.
4) Adaptor
Adaptor adalah perilaku nonverbal yang bila dilakukan secara pribadi -atau di muka umum tetapi tidak terlihat- berfungsi memenuhi kebutuhan tertentu dan dilakukan sampai selesai. Misalnya, bila anda sedang sendiri mungkin anda akan menggaruk-garuk kepala sampai rasa gatal hilang. Di muka umum, bila orang- orang melihat, anda melakukan perilaku adaptor ini hanya sebagian. Anda mungkin, misalnya, hanya menaruh jari anda di kepala dan menggerakkannya sedikit, tetapi barangkali tidak akan menggaruk cukup keras untuk menghilangkan gatal.
2. Komunikasi Wajah (Affect Display)
Gerakan wajah mengkomunikasikan macam-macam emosi selain juga kualitas atau dimensi emosi. Kebanyakan periset sependapat dengan Paul Ekman, Wallace V. Friesen, dan Phoebe Ellsworth (1972) dalarn menyatakan bahwa pesan wajah dapat mengkomunikasikan sedikitnya “kelompok emosi” berikut: kebahagiaan, keterkejutan, ketakutan, kemarahan, kesedihan, dan kemuakan/penghinaan. Periset nonverbal Dele Leathers (1986) mengemukakan bahwa gerakan wajah mungkin juga mengkomunikasikan kebingungan dan ketetapan hati. Keenam emosi yang diidentifikasi oleh Ekman dan rekan-rekannya secara umum dinamakan affect display primer. Ini merupakan emosi tunggal yang relatif murni. Keadaan emosi yang lain dan tampilan wajah yang lain merupakan kombinasi dari berbagai emosi primer ini, dan dinamakan bauran affect. Sekitar 33 bauran affect (affect blend) telah diidentifikasi. Kita dapat mengkomunikasikan berbagai affect ini dengan berbagai bagian dari wajah. Jadi, misalnya, anda mungkin mengalami rasa takut dan rasa muak sekaligus. Mata dan kelopak mata anda, mungkin mengisyaratkan ketakutan, sedangkan gerakan hidung, pipi, dan daerah mulut anda mungkin mengisyaratkan rasa muak.
3. Komunikasi Mata
Pesan-pesan yang dikomunikasikan oleh mata bervariasi bergantung pada durasi, arah, dan kualitas dari perilaku mata. Bila kontak mata terjadi lebih singkat, kita dapat mengira orang ini tidak berminat, rnalu, atau sibuk. Bila waktu yang patut dilampaui, kita umumnya menganggap hal ini menunjukkan minat yang berlebihan. Di antara periset-periset lain,Mark Knapp (1978) mengemukakan empat fungsi komunikasi mata:
a. Mencari Umpan Balik
Kita seringkali menggunakan mata kita untuk mencari umpan balik dari orang lain. Dalam berbicara dengan seseorang, kita memandangnya dengan sungguh-sungguh, seakan-akan mengatakan, “Nah, bagaimana pendapat anda?” Seperti mungkin anda duga, pendengar memandang pembicara lebih banyak ketimbang pembicara memandang pendengar.
b. Menginformasikan Pihak Lain untuk Berbicara
Fungsi kedua adalah menginformasikan pihak lain bahwa saluran komunikasi telah terbuka dan bahwa ia sekarang dapat berbicara. Kita melihat ini dengan jelas di ruang kuliah, ketika dosen mengajukan pertanyaan dan kemudian menatap salah seorang mahasiswa. Tanpa mengatakan apa-apa, dosen ini jelas mengharapkan mahasiswa tersebut untuk menjawab pertanyaannya.
c. Mengisyaratkan Sifat Hubungan
Fungsi ketiga adalah mengisyaratkan sifat hubungan antara dua orang -misalnya, hubungan positif yang ditandai dengan pandangan terfokus yang penuh perhatian, atau hubungan negatif yang ditandai dengan penghindaran kontak mata. Kita juga dapat mengisyaratkan tata hubungan status dengan mata kita. Ini khususnya menarik karena gerakan mata yang sama mungkin mengisyaratkan subordinasi atau superioritas. Seorang atasan, misalnya, mungkin menatap bawahannya atau tidak mau melihatnya langsung. Demikian pula, bawahan mungkin menatap langsung atasannya atau barangkali hanya menatap lantai.
d. Mengkompensasi Bertambahnya Jarak Fisik
Akhimya, gerakan mata dapat mengkompensasi bertambah jauhnya jarak fisik. Dengan melakukan kontak mata, kita secara psikologis mengatasi jarak fisik yang memisahkan kita. Bila kita menangkap pandangan mata seseorang dalam sebuah pesta, misalnya, secara psikologis kita menjadi dekat meskipun secara fisik jarak di antara kita jauh. Tidaklah mengherankan, kontak mata dan ekspresi lain yang menunjukkan kedekatan psikologis, seperti pengungkapan-diri, berhubungan secara positif; jika yang satu meningkat, begitu juga yang lain.
e. Fungsi Penghindaran Kontak Mata
Ahli sosiologi, Erving Goffman, dalam Interaction Ritual (1967), mengatakan bahwa mata adalah “pengganggu yang hebat.” Bila kita menghindari kontak mata atau mengalihkan pandangan kita, kita membantu orang lain menjaga privasi (privacy) mereka. Kita sering melakukan hal ini bila ada pasangan yang bertengkar di muka umum. Kita mengalihkan pandangan dari mereka (meskipun mungkin mata kita terbuka lebar) seakan-akan mengatakan, “Kami tidak ingin mencampuri; kami menghormati hak anda.” Goffman menamai perilaku iniinatensi masyarakat (civil innatention). Penghindaran kontak mata dapat mengisyaratkan ketiadaan minat-terhadap seseorang, pembicaraan, atau rangsangan visual tertentu. Adakalanya, seperti burung unta, kita menyembunyikan mata kita untuk menghindari rangsangan yang tidak menyenangkan. Perhatikanlah, misalnya, betapa cepat orang menutup mata mereka bila menghadapi hal yang sangat tidak menyenangkan.
4. Komunikasi Ruang
a. Proksemik/komunikasi jarak
Yaitu jarak yang Anda gunakan ketika berkomunikasi dengan orang lain, termasuk juga tempat atau lokasi posisi Anda berada.
1) Intim (0-45cm)
2) Personal (75-120cm)
3) Sosial (120-210 atau 210-360 formal)
4) Publik (360-450 cm)
b. Teritorial
c. c. Estetika dan warna
5. Diam
a. Memberi kesempatan berpikir
b. Menyakiti
c. Mengisolasi diri sendiri
d. Mencegah komunikasi
e. Mengkomunikasikan perasaan
f. Tidak menyampaikan sesuatupun
6. Paralanguage
Merupakan suara-suara/vokal nonverbal yang merupakan aspek-aspek dari percakapan, seperti kecepatan berbicara: volume, ritme; bentuk-bentuk vokal: tertawa, pekikan, rintihan, uh, ahh, dan sebagainya.
7. Komunikasi Temporal (Waktu)
a. Menujukkan status
b. Waktu dan kesesuaian
G. Perbedaan Gennder dalam Komunikasi Nonverbal
Komunikasi nonverbal terdiri atas semua unsur komunikasi, kecuali kata-kata, meliputi simbol, atau tanda-tanda visual (gesture atau gerakan, keragaan), features vocal (intonasi, volume serta tinggi rendahnya suara), serta faktor-faktor lingkungan (seperti penggunaan ruang/spatial dan posisi) yang mempengaruhi makna komunikasi. Seperti halnya bahasa, komunikasi nonverbal dipelajari melalui interaksi dengan yang lainnya, merefleksikan dan memperkuat pandangan-pandangan sosial tentang gender serta mendorong orang-orang untuk menyatakan mereka sendiri ke dalam gaya feminin dan maskulin. Gender dilembagakan melalui “penggayaan” tubuh (Judith Butler dalam Wood, 2001). Sebagaimana bahasa, komunikasi nonverbal berhubungan dengan gender dan budaya, karena komunikasi nonverbal mengekspresikan tentang makna-makna budaya gender mereka melalui pembedaan dalam komunikasi nonverbal mereka.
Dalam budaya Sunda, pada dasarnya tidak terdapat pembedaan yang terlalu mecolok dalam hal komunikasi nonverbal dalam konteks gender. Adapun beberapa contoh komunikasi nonverbal dalam budaya Sunda antara lain sebagai berikut:
1. Sentuhan (haptics)
Diasumsikan bahwa setiap rangsangan indera melalui kulit mengkomunikasikan makna. Makna yang diterima dari suatu sentuhan sangat bergantung tidak hanya pada sifat sentuhan, tetapi juga pada situasi dan hubungan antar individu.
Kebudayaan kita dilabeli sebagai kebudayaan nonkontak, yang mengindikasi bahwa kita cenderung menjadi sangat membatasi tentang siapa menyentuh siapa. Beberapa sentuhan dinilai terutama dalam hubungan dengan potensi yang menimbulkan gairah seksual.
Contoh:
Bentuk komunikasi non-verbal yang berupa sentuhan dalam kebudayaan Sunda, antara lain:
a. Setiap bertemu dengan orang yang lebih tua, terutama keluarga, biasanya orang yang lebih muda mencium tangan orang yang lebih tua sebagai ungkapan rasa hormat.
b. Ketika bertemu dengan kerabat atau teman yang seusia, jika sesama jenis kelamin, biasanya berjabat tangan dan berpelukan atau mencium pipi kanan-kiri. Jika berlainan jenis kelamin, hanya berjabat tangan saja.
c. Dalam hubungan suami dan istri, istri biasanya mencium tangan suaminya sebagai tanda hormat.
d. Dalam upacara perkawinan, ada satu ritual injak telur yang dilakukan oleh suami, sang istri kemudian akan mencucikan kaki suaminya sebagai simbol pengabdiannya pada sang suami.
e. Dalam hubungan orang tua dan anak, orang tua biasanya mencium kening anaknya setelah si anak mencium tangan orang tuanya, biasanya dilakukan ketika selesai sembahyang berjamaah atau ketika akan pergi meninggalkan rumah untuk beraktivitas.
2. Proksimitas dan ruang/jarak pribadi (proximity and personal space)
Jarak merupakan cara yang paling utama melalui mana kebudayaan mengekspresikan nilai-nilai dan bentuk-bentuk pola interaksi. Dalam kebudayaan saya yaitu sunda, tidak ada aturan khusus dalam hal jarak dalam berkomunikasi dengan lawan bicara. Aturan jarak dalam berkomunikasi dengan lawan bicara, baik yang sesama jenis kelamin maupun berbeda jenis kelamin. Aturan yang digunakan dalam berkomunikasi basanya mengacu pada atuarn standar yang digunakan secara umum, tidak ada spesifikasi khusus.
3. Kinesik (kinesics)
Terdapat beberapa jenis kinesik, antra lain:
(1) Ekspresi wajah
Ekspresi wajah dan kontak mata dianggap sebagai kunci penting dalam menentukan kepribadian dan kondisi emosi seseorang. Kita cenderung menentukan atau menduga perasaan atau emosi seseorang apakah dia senang, berbohong, berbicara benar, atau sedang frustasi dengan memperhatikan ekspresi wajahnya, termasuk dengan melihat matanya atau melalui kontak mata. Jika orang tua saya sudah memasang wajah cemberut, itu artinya mereka sedang marah. Ekspresi wajah yang sumeringah itu menandakan sedang senang atau bahagia.
(2) Kontak mata
Biasanya perilaku saling menatap ditemukan dalam interaksi sesama perempuan daripada antara sesama laki-laki. Informasi visual berperan secara sangat lebih nyata pada perempuan dalam kehidupan sosial mereka dibanding laki-laki, aktivitas visual perempuan lebih sensitif terhadap kondisi yang situasional dibanding laki-laki. Contoh kontak mata yang dilakukan, ketika bertamu ke rumah orang, ibu saya selalu mengajarkan agar saya harus berlaku sopan. Dengan tidak boleh mengambil makanan suguhan, kaki tidak boleh naik ke kursi, dan sebagainya. Apabila saya berlaku tidak sopan, maka ibu saya akan melototi saya, yang artinya “tidak boleh begitu”. Selain itu, apabila ada tamu ibu atau ayah saya yang datang ke rumah, saya tidak diperkenankan untuk menimbrung di ruang tamu. Apabila saya tetap berada di ruang tamu, maka ibu saya memelototi saya, yang artinya saya harus pergi dari ruang tamu dan tidak boleh menimbrung.
H. Perbedaan Kultural dalam Komunikasi nonverbal
Hubungan antara komunikasi nonverbal dan kebudayaan sangat erat karena keduanya dipelajari, diwariskan dan melibatkan pengertian-pengertian yang harus dimiliki bersama. Dilihat dari segi ini, dapat dimengerti mengapa komunikasi nonverbal dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Banyak perilaku nonverbal dipelajari secara kultural. Sebagaimana aspek verbal, komunikasi nonverbal juga tergantung atau ditentukan oleh kebudayaan, yaitu :
1. Kebudayaan menentukan perilaku-perilaku nonverbal yang mewakili atau melambangkan pemikiran, perasaan, keadaan tertentu dari komunikator.
2. Kebudayaan menentukan kapan waktu yang tepat atau layak untuk mengkomunikasikan pemikiran, perasaan, keadaan internal. Jadi walaupun perilaku-perilaku yang memperlihatkan emosi ini banyak yang bersifat universal, tetapi ada perbedaan-perbedaan kebudayaan dalam menentukan kapan, oleh siapa dan dimana emosi-emosi itu dapat diperlihatkan.
3. Pengenalan dan pemahaman tentang pengaruh kebudayaan pada interaksi nonverbal merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam Komunikasi Antar Budaya, karena: Dengan mengerti pola-pola dasar pengetahuan nonverbal dalam suatu kebudayaan, kita dapat mengetahui sikap-sikap dasar dari kebudayaan tersebut. Misalnya dengan memperhatikan tindak tanduk para pegawai pria Jepang dalam membuat pertemuan-pertemuan di restoran pada malam hari, seseorang dapat mempelajari sedikit tentang sikap mereka terhadap pekerjaan dan wanita.
4. Pola-pola perilaku nonverbal dapat memberikan informasi tentang sistem nilai suatu kebudayaan. Misalnya : tentang konsep waktu kebudayaan dengan orientasi pada “doing” (aktif melakukan sesuatu) seperti Amerika Serikat akan cenderung untuk menganggap situasi tanpa kata-kata sebagai membuang-buang waktu. Bagi kebudayaan dengan orientasi pada “being” (keberadaan), suasana hening dalam pembicaraan mempunyai nilai positif, karena penting untuk pemahaman diri dan kesadaran akan keadaan.
5. Pengetahuan tentang perilaku nonverbal dapat membantu untuk menekan rasa etnosentrisme. Misalnya : seseorang mungkin akan lebih memahami penggunaan jarak ruang oleh orang lain, jika orang tersebut sadar akan karakteristik-karakteristik kebudayaan yang mendasarinya, yang mencerminkan sesuatu tentang si pengguna dan kebudayaannya.
DAFTAR PUSTAKA