Televisi saat ini merupakan media
massa yang “terpopuler” di kalangan masyarakat dunia terutama masyarakat
Indonesia. Hampir 90 persen penduduk di negara-negara berkembang mengenal dan
memanfaatkan televisi sebagai sarana hiburan, informasi, edukasi dan lain
sebagainya. Televisi tidak membatasi diri hanya untuk konsumsi kalangan
tertentu saja namun telah menjangkau konsumen dari semua kalangan masyarakat
tak terkecuali remaja dan anak-anak. Sebuah survey yang dilakukan terhadap
anak-anak di Amerika Serikat menemukan bahwa setengah dari anak-anak tersebut
memiliki televisi sendiri di kamar mereka. Ini mengakibatkan sebagian besar
hari mereka dihabiskan di kamar dengan menonton acara televisi. Program
televisi yang makin bervariatif menyebabkan mereka melupakan kebutuhan akan
pendidikan mereka. Televisi seakan magnet bagi setiap orang untuk menontonnya.
Orang akan mampu melupakan kegiatannya demi menonton sebuah tayangan televisi
favoritnya. Inilah salah satu dampak buruk dari sekian dampak buruk televisi
bagi masyarakat kita.
Televisi sebagai media massa sebagai perangkat sosial yang berpengaruh
besar terhadap kesehatan sosial masyarakat. Kehidupan sosial masyarakat yang
semula tradisional berubah cepat menjadi modern akibat modernisasi yang dibawa
oleh televisi. Tak terbatasnya dunia komunikasi massa melalui media massa
seperti televisi mengantarkan masyarakat pada arus perubahan peradaban yang
cepat. Televisi saat ini seakan menjadi guru elektronik yang mengatur dan
mengarahkan serta menciptakan budaya massa baru. Tayangan program televisi
seperti reality show, infotainment, sinetron, film bahkan iklan sekalipun turut
serta mengatur dan mengubah life style di masyarakat. Informasi yang diberikan
televisi seperti program berita tentang politik, budaya, ekonomi maupun sosial
masyarakat dari suatu negara layaknya hanya hiburan dan permainan publik
belaka. Kenyataan di dalamnya telah diubah dengan “sesuatu” yang maya. Namun
tak sedikit pula pemerhati acara televisi yang “sehat” menemukan dampak positif
dari tayangan televisi. Televisi juga bisa dijadikan sebagai sarana edukasi dan
informasi. Kita bisa mengetahui berita dari belahan bumi manapun dengan cepat
melalui televisi. Namun pada kenyataannya semua itu hanya kepentingan politik
dan “matreisme” dari kalangan tertentu belaka. Televisi tetap menjadi suatu
kenyataan yang semu bagi kita semua. Semua ini membuktikan kalau media televisi
sudah semakin “parah” mempengaruhi kerja otak masyarakat.
Pengaruh Televisi terhadap Kesehatan
Sosial Masyarakat Indonesia
Televisi sebagai media massa dalam
komunikasi massa tidak terlepas dari dampak yang terjadi di masyarakat.
Pengaruh-pengaruh televisi bisa berarti sebagai efek komunikasi massa. Donald
K. Robert (Schramm dan Roberts: 1977) menyatakan bahwa efek ini
hanyalah perubahan perilaku masyarakat setelah merekam pesan media massa.
Berarti fokusnya pada pesan yang dibawa media. Beda halnya dengan McLuhan yang
berpendapat bahwa efek yang timbul adalah medianya itu sendiri. “The medium is
the message”. Media massa sendiri adalah pesan jadi yang mempengaruhi kita
bukanlah pesan yang disampaikan media melainkan medianya itu sendiri. Namun
tetap saja bahwa kehadiran media massa baik itu fisisnya maupun isinya membawa
pengaruh atau efek bagi masyarakat. Efek-efek tersebut disebutkan oleh Steven
H. Chaffee dalam lima poin yaitu efek ekonomis, efek sosial, efek pada
penjadwalan kegiatan, efek pada penyaluran/penghilangan perasaan tertentu dan
efek perasaan orang terhadap media. Berdasarkan teori uses and gratification,
perbedaan motif dalam konsumsi media massa juga menyebabkan kita bereaksi pada
media massa secara berbeda pula. Teori ini setidaknya menjelaskan bahwa
masyarakat kebanyakan menggunakan media massa sebagai pemuas kebutuhan. Karena
sifatnya hanya memenuhi keinginan nafsu tanpa disertai pemikiran yang mendalam,
pengaruh-pengaruh mediapun mudah masuk ke dalam pikiran masyarakat.
Televisi baik bila berfungsi sebagai
media komunikasi, informasi, budaya dan pendidikan. Namun televisi menjadi
sesuatu yang kontroversial ketika dihadapkan pada kepentingan bisnis yang
berpengaruh buruk bagi masyarakat. Acara atau program yang ditayangkan televisi
punya pengaruh baik dan tidak baik bagi pemirsa. Berbagai persepsi dan
perspektif akan muncul pada diri masyarakat setelah menonton sebuah acara
televisi. Banyak riset yang dilakukan di banyak negara menemukan pengaruh buruk
televisi terhadap kesehatan sosial masyarakat. Indonesia sebagai negara yang
berkembang, mempunyai arus komunikasi yang seakan tak terbatas keluar masuk ke
dan dari masyarakat. Pengaruh negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika juga
turut serta di dalamnya. Informasi dan komunikasi tersebut sampai ke masyarakat
melalui televisi. Tayangan televisi pun semakin berani dengan hadir 24 jam non
stop. Dapat dipastikan apa yang telah dibawa oleh pesan televisi baik yang
positif maupun negatif terserap lebih dari setengahnya oleh masyarakat kita.
1. Pengaruh positif televisi bagi masyarakat
Kembali ke fungsi utama televisi
yaitu sebagai media komunikasi dan informasi. Televisi sejatinya hadir untuk
menghibur, mendidik, dan mengarahkan pemirsa ke arah yang baik. Beberapa sisi
positif televisi adalah sebagai berikut:
a. Televisi sebagai penghibur pemirsa
Sejatinya, televisi merupakan salah satu media massa yang
berfungsi sebagai penghibur. Dalam diri manusia terdapat ID, ego dan super ego
yang mendorong manusia untuk memenuhi kebutuhannya termasuk kebutuhan akan
hiburan. Kehadiran program-program televisi yang menghibur sangat diperlukan
untuk melepas stress sejenak setelah seharian bekerja atau belajar. Setidaknya
hiburan itu dapat me-refresh otak dari permasalahan-permasalahan yang terjadi
dalam sehari. Bagi masyarakat Indonesia sendiri arti kebersamaan sangat
penting. Dengan adanya televisi, kebersamaan itu bisa diwujudkan dengan menonton
program hiburan televisi yang ‘sehat’ secara bersama. Mereka bisa tertawa
bersama, bercanda bersama mengomentari apa yang ada dalam tayangan dan ini
sangat baik untuk kesehatan sosial masyarakat Indonesia. Program televisi
seperti acara komedi, sinetron dan film yang menghibur sangat dinanti masyarakat
kita.
b. Televisi sebagai media informasi,
pengetahuan dan pendidikan
Prilaku manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah faktor sosiogenesis. Rasa ingin tahu merupakan salah satu motif sosiogenesis yang ada dalam diri manusia dan mempengaruhi tingkah laku mereka. Televisi sebagai media massa juga memiliki fungsi sebagai media penyampai informasi. Program televisi seperti news, infotainment, bahkan talk show mampu memberikan informasi yang sekiranya diperlukan oleh pemirsa televisi. Indonesia sebagai Negara yang sedang berkembang, informasi dari berbagai belahan dunia sangat dibutuhkan oleh masyarakat kita. secara tidak langsung informasi itu dapat meningkatkan intelektual masyarakat sehingga mampu meningkatkan potensi sumber daya manusia Indonesia itu sendiri. Dengan hadirnya televisi dunia seakan semakin sempit. Berbagai berita criminal, politik, sosial dan budaya dari dalam maupun luar negeri bisa sampai ke masyarakat dengan mudah. Informasi tersebut bahkan bisa disaksikan langsung oleh pemirsa melalui tayangan live.
Selain memberi informasi, televisi juga bisa bermanfaat sebagai sarana edukasi bagi pemirsa khususnya para pelajar dan anak-anak yang sedang dalam tahap perkembangan. Acara kuis, program bimbingan rohani, talk show pendidikan atau bidang pengetahuan lain sangat berguna bagi masyarakat kita. bagi sebagian orang yang memiliki pola belajar audio visual, menonton televisi bisa dijadikan sebagai alternatif pembelajaran. Tentunya program televisi itu haruslah benar-benar mendidik dan tidak ada unsur –unsur di dalamnya yang dapat merugikan pemirsa.
Prilaku manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah faktor sosiogenesis. Rasa ingin tahu merupakan salah satu motif sosiogenesis yang ada dalam diri manusia dan mempengaruhi tingkah laku mereka. Televisi sebagai media massa juga memiliki fungsi sebagai media penyampai informasi. Program televisi seperti news, infotainment, bahkan talk show mampu memberikan informasi yang sekiranya diperlukan oleh pemirsa televisi. Indonesia sebagai Negara yang sedang berkembang, informasi dari berbagai belahan dunia sangat dibutuhkan oleh masyarakat kita. secara tidak langsung informasi itu dapat meningkatkan intelektual masyarakat sehingga mampu meningkatkan potensi sumber daya manusia Indonesia itu sendiri. Dengan hadirnya televisi dunia seakan semakin sempit. Berbagai berita criminal, politik, sosial dan budaya dari dalam maupun luar negeri bisa sampai ke masyarakat dengan mudah. Informasi tersebut bahkan bisa disaksikan langsung oleh pemirsa melalui tayangan live.
Selain memberi informasi, televisi juga bisa bermanfaat sebagai sarana edukasi bagi pemirsa khususnya para pelajar dan anak-anak yang sedang dalam tahap perkembangan. Acara kuis, program bimbingan rohani, talk show pendidikan atau bidang pengetahuan lain sangat berguna bagi masyarakat kita. bagi sebagian orang yang memiliki pola belajar audio visual, menonton televisi bisa dijadikan sebagai alternatif pembelajaran. Tentunya program televisi itu haruslah benar-benar mendidik dan tidak ada unsur –unsur di dalamnya yang dapat merugikan pemirsa.
c. Televisi sebagai media aksi sosial
masyarakat Seperti yang disebutkan dalam point b, sisi positif dari televisi
yaitu sebagai media informasi. Berbagai macam informasi disampaikan televisi
melalui program news, talk show, reality show, infotainment salah satunya
menyangkut berita sosial. Keadaan sosial dari seluruh Indonesia dapat diketahui
pemirsa di rumah. Kemiskinan, kelaparan penderitaan saudara-saudara kita di
televisi seakan bisa kita rasakan walau posisi kita secara nyata berjauhan. Ini
membuktikan bahwa televisi juga bisa berguna untuk menggugah kesadaran sosial
masyarakat.
Ketika bencana tsunami terjadi di Aceh pada desember 2004
banyak stasiun-stasiun yang menayangkan kejadian tersebut. Pemirsa yang
menyaksikan kejadian tersebut secara tidak langsung melalui televisi pasti akan
tergugah hatinya untuk ikut merasakan kepedihan yang dirasakan masyarakat Aceh
yang terkena dampak dari tsunami. Sebagian besar bahkan semua stasiun televisi
Indonesia, dalam iklan baris maupun iklan full screen mengajak pemirsa untuk
ikut berpartisipasi dalam program bantuan yang akan diberikan kepada korban
tsunami di Aceh. Dari contoh tersebut dapat kita simpulkan bahwa televisi juga
berpengaruh positif terhadap kesehatan sosial masyarakat Indonesia.
2.
Pengaruh
buruk televisi bagi masyarakat
Sebagai
masyarakat komunikasi dan masyarakat sosial, manusia tidak mungkin hidup
sendiri. Baik dan buruk pasti berdampingan. Seperti halnya televisi, pengaruh
baik bagi masyarakat memang banyak ditemukan tetapi tidak sedikit pula pengaruh
buruk televisi bagi masyarakat kita. apalagi di zaman sekarang ini di mana
dunia bisnis seakan menjadi nomer satu di jagat raya terutama di Indonesia.
Money oriented merasuk di seluruh lapisan masyarakat. Prinsip ekonomi ‘meraih
keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya’ seakan
diagung-agungkan oleh pebisnis dalam negeri kita. Tidak dapat dipungkiri
televisi juga menjadi salah satu ladang meraup keuntungan rupiah
sebanyak-banyaknya oleh pemilik dan para investornya. Jika sudah menyangkut
masalah ekonomi, apalagi yang menjadi fokus adalah uang, maka segala cara akan
dilakukan untuk mencapainya.
Dalam
bisnis televisi, hal tersebut dapat dicapai dengan membuat program atau acara
yang menarik banyak pemirsa sehingga banyak iklan yang akan bekerja sama. Untuk
dapat menarik pemisa sebanyak-banyaknya tidaklah mudah, survey langsung ke
masyarakat sangat perlu dilakukan sebagai tes apakah program itu akan berhasil
atau tidak. Survey bisa dilakukan secara besar-besaran yang mengahabiskan
banyak uang atau hanya cukup mensurvey beberapa kelompok kecil saja. Namun
kembali pada prinsip ekonomi yang mengajarkan kita untuk pelit tapi dapat
banyak, hal itu tidak munkin dilakukan. Maka sebagai jalan pintas, para insan
televisi membuat program ringan yang sekiranya mencerminkan kehidupan
masyarakat sehingga bisa menarik penonton. Karena dibuat dengan latar belakang
uang maka segala peraturan dan kode etik penyiaranpun dikesampingkan. Padahal
kode etik itu setidaknya melindungi masyarakat dari program yang merugikan
mereka sendiri.
3.
Pengaruh-pengaruh
buruk televisi bagi masyarakat Indonesia adalah sebagai berikut:
a. Televisi merusak moral dan budaya
masyarakat.
Jika kita
perhatikan akhir-akhir ini di televisi Indonesia banyak ditayangkan sinetron,
film televisi (FTV) maupun drama mini seri yang menceritakan kehidupan
percintaan dan perebutan harta. Di SCTV misalnya, entah pagi, siang atau malam,
ditayangkan FTV remaja yang menampilkan kehidupan anak SMA dengan baju abu-abu
putih minim yang menujukkan bahwa mereka modis dan mengikuti tren yang sedang
booming. Diceritakan juga hubungan cinta segitiga antara cowok cakep, cewek
kaya yang cantik dan modis, dan cewek biasa saja. Dalam cerita itu si cowok
menyukai cewek biasa saja tetapi si cewek kaya tidak terima karena dia menyukai
si cowok tersebut. Akhirnya segala cara dilakukan untuk memisahkan mereka
termasuk melukai si cewek biasa. Hal ini secara tidak langsung mempengaruhi
pemikiran remaja kita bahwa masa remaja lebih asyik diisi dengan keglamoran,
shopping, percintaan, persaingan yang tidak sehat serta hal-hal negatif lainnya
dan menjauhkan mereka dari tugasnya sebagai pelajar dan generasi bangsa ini.
Semakin mereka sering menonton sinetron atau FTV seperti itu, semakin terikat
mereka dengan ceritanya dan melupakan siapa mereka sebenarnya sehingga mereka
tidak percaya diri menjadi dirinya sendiri. Sebagai generasi penerus bangsa,
sejatinya mereka mempersiapkan masa depan dengan belajar dan bersikap yang
baik.
Televisi juga membentuk budaya malas. Banyak orang yang rela duduk berjam-jam lamanya hanya karena menonton tayangan favoritnya. Para remaja, orang tua, anak-anak tidak laki-laki saja tetapi juga perempuan rela bergadang demi tayangan langsung sepak bola klub-klub besar Eropa. Remaja putri rela membolos demi menyaksikan penampilan actor atau aktris favoritnya di televisi. Anak-anak kehilangan jam tidur siangnya karena menonton kartun siang. Ibu-ibu lupa menyiapkan makan siang karena sudah terpaku di depan acara infotainment. Semua itu bentuk-bentuk kemalasan yang dibentuk oleh televisi. Terlalu sering menonton televisi menyebabkan kinektisitas berkurang sehingga berakibat pada kegemukan. Selain itu kualitas kerja kita juga turun. Sungguh potret sosial masyarakat yang tidak sehat. Jika hal seperti ini terus-terusan dibiarkan maka masa depan bangsa perlu dipertanyakan akan seperti apa.
Televisi juga membentuk budaya malas. Banyak orang yang rela duduk berjam-jam lamanya hanya karena menonton tayangan favoritnya. Para remaja, orang tua, anak-anak tidak laki-laki saja tetapi juga perempuan rela bergadang demi tayangan langsung sepak bola klub-klub besar Eropa. Remaja putri rela membolos demi menyaksikan penampilan actor atau aktris favoritnya di televisi. Anak-anak kehilangan jam tidur siangnya karena menonton kartun siang. Ibu-ibu lupa menyiapkan makan siang karena sudah terpaku di depan acara infotainment. Semua itu bentuk-bentuk kemalasan yang dibentuk oleh televisi. Terlalu sering menonton televisi menyebabkan kinektisitas berkurang sehingga berakibat pada kegemukan. Selain itu kualitas kerja kita juga turun. Sungguh potret sosial masyarakat yang tidak sehat. Jika hal seperti ini terus-terusan dibiarkan maka masa depan bangsa perlu dipertanyakan akan seperti apa.
Tidak hanya itu, arus globalisasi dan westernisasi juga
melaju deras lewat televisi. Budaya barat yang identik dengan kebebasan dalam
segala hal tanpa toleransi sesama sudah merasuki pemikiran masyarakat
Indonesia. Banyak pengaruh yang dibawa globalisasi barat ke Negara ini namun
entah kenapa banyak pengaruh negatif yang diserap masyarakat dari pada pengaruh
positifnya. Mungkin karena kelihaian Barat dalam mengkamuflasekan budayanya atau
karena ketidaksiapan bangsa Indonesia menghadapi perubahan yang cepat. Banyak
budaya ketimuran yang sopan mulai tergeser. Seni-seni tradisional bangsa sudah
tidak berkibar lagi di seluruh negeri diganti dengan seni-seni barat yang
terkesan bebas, erotis dan realis sekali.
Jika yang terjadi di Negara Indonesia kita tercinta seperti ini, bukan tidak mungkin moral dan budaya asli masyarakat Indonesia untuk beberapa tahun ke depan akan benar-benar luntur. Dan televisi patut dipersalahkan dalam hal ini.
Jika yang terjadi di Negara Indonesia kita tercinta seperti ini, bukan tidak mungkin moral dan budaya asli masyarakat Indonesia untuk beberapa tahun ke depan akan benar-benar luntur. Dan televisi patut dipersalahkan dalam hal ini.
b. Televisi menyita banyak waktu yang
berharga
Jika kita kembali pada masa 10 sampai 20 tahun yang lalu,
televisi hanya dimiliki oleh kalangan tertentu saja. Stasiun televisi juga
masih sedikit. Mungkin televisi pada zaman nenek kita hanya ada satu channel
yaitu TVRI. Program acaranyapun masih sedikit dan masih dalam taraf wajar-wajar
saja. Tapi lihat di zaman sekarang. Televisi dipunyai hampir tiap keluarga
bahkan ada keluarga yang melengkapi tiap kamar dengan satu televisi. Banyak
stasiun televisi swasta nasional maupun lokal berdiri dengan menyuguhkan banyak
program yang makin bervariatif. Acaranyapun tidak tanggung-tanggung, 24 jam non
stop. Sinetron-sinetron tayang setiap hari dan menjamur dalam sehari mulai
pagi, siang, sore, malam bahkan tengah malampun sinetron masih tayang di salah
satu televisi swasta nasional. Coba kita ingat masa kecil kita, sinetron hanya
tayang satu kali dalam seminggu. Itupun masih jarang.
Semua itu menyebabkan pemirsa makin diamanjakan sehingga
makin betah melototi televisi berjam-jam dalam sehari. Jika dulu kebanyakan
orang hanya menonton satu jam acara saja, tetapi sekarang program-program
unggulan televisi ditayangkan secara estafet sehingga pemirsa mampu
menghabiskan lima sampai enam jam bahkan ada yang 10 jam non stop hanya menonton
televisi saja. Coba bayangkan berapa banyak waktu berharga dalam sehari yang
sudah terbuang. Remaja yang seharusnya belajar jam tujuh malam berpaling ke
sinetron televisi. Ibu-ibu yang harus ke pasar pagi-pagi rela menundanya demi
satu acara gossip. Anak-anak malas ke sekolah karena harus menonton kartun
kesayangannya. Yang lebih parah lagi, banyak di antara masyarakat Indonesia
melalaikan ibadahnya karena tertancap pada saluran televisi favoritnya. Sungguh
potret kehidupan sosial yang tidak sehat dan televisi adalah penyebabnya.
c. Televisi merusak perkembangan otak
manusia
Program
acara yang bervariatif, makin memisahkan segmen-segmen konsumennya menimbulkan
banyak pengaruh. Meskipun acara televisi sudah dipisah menurut
segmen-segmennya, tetap saja tayangannya masih bisa dinikmati banyak kalangan
umur. Acara kartun misalnya, memiliki banyak segmen yaitu dari anak-anak,
remaja bahkan dewasapun masih ada yang menonton program yang satu ini. Kartun
yang sejatinya untuk anak-anak kini didesain sedemikian rupa untuk konsumsi
dewasa sehingga anak-anak yang merasa itu tontonannya pun ikut menontonnya.
Padahal pesan yang disampaikan banyak mengandung unsur kekerasan. Hal ini
menyebabkan otak mereka terangsang untuk membentuk pribadi yang mengedepankan
kekerasan dalam menghadapi masalah. Tidak hanya itu, kekerasan yang mereka
tontonpun bisa mereka praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Berkelahi sesama
teman menjadi sesuatu yang biasa. Jika kita ingat di pertengahan tahun 2007
kemarin, sebuah tanyangan kekerasan orang dewasa yaitu Smack Down tayang di
salah satu televisi swasta nasional Indonesia dan mengakibatkan anak-anak
terpengaruh. Merekapun mempraktekkannya sesama teman, beradu otot sampai-sampai
memakan korban jiwa.
Tidak hanya
anak-anak, remaja, dan orang dewasa saja yang terkena dampak buruk televisi,
bayi di bawah umur lima tahunpun juga terkena dampaknya. Melihat banyaknya
pengaruh buruk pertelevisian Indonesia saat ini bagi kesehatan sosial
masyarakat kita, pemerintah hendaknya mulai berlaku tegas kepada para pemilik
acara televisi agar tidak berakibat fatal pada perkembangan peradaban
masyarakat Indonesia sendiri.
kesimpulan
1.
Televisi
sebagai media massa merupakan sarana komunikasi massa yang tidak terlepas dari
efek-efek bagi masyarakat sebagai komunikan itu sendiri.
2.
Televisi
mempunyai pengaruh positif dan negatif bagi kesehatan sosial masyarakat
Indonesia.
3.
pengaruh
positif televisi di antaranya yaitu, televisi sebagai penghibur pirsawan,
sebagai media informasi, pengetahuan dan pendidikan serta sebagai media aksi
sosial masyarakat.
4.
pengaruh
negatif televisi yaitu diantaranya merusak moral dan budaya bangsa,
menghabiskan banyak waktu berharga dan merusak perkembangan otak manusia.
Sumber:
Rakhmat, Jalaluddin. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005.
Dennis McQuail. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : Suatu Pengantar, Erlangga,1987.
William R. Rivers at.al.Media Massa dan Masyarakat Modern. Jakarta:
Edisi Kedua, Prenada Media, 2003.
ijin share,,yaa , artikelnyaa sangat bermanfaat
BalasHapusya
HapusBoleh gak di share kak
HapusBoleh
HapusSangat bermanfaat mas
BalasHapus