Ilmu komuniakasi

Kamis, 05 November 2020

Pengantar Jurnalistik dan Fungsi Jurnalistik


1.         Pengertian Jurnalistik.

Manusia menciptakan alat komunikasi.Sebelum ditemukan alat-alat audio visual seperti radio, televisi dan internet, manusia menggunakan media kertas sebagai sarana pemberitaan mereka.Dari sinilah kemudian ilmu tulis menulis berkembang yang kemudian dikenal dengan istilah jurnalistik.

Jurnalistik atau journalisme berasal dari perkataan journal, artinya catatan harian, atau catatan mengenai kejadian  sehari-hari, atau biasa juga berarti surat kabar.  Dari perkataan itulah lahir kata jurnalis, yaitu orang yang melakukan pekerjaan jurnalistik.[1]

Sementara ada juga yang mendefinisikan jurnalistik yaitu seni dan ketrampilan mencari, mengumpulkan, mengolah, menyusun, dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari-hari secara indah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani khalayaknya.[2]

Definisi lain tentang Jurnalistik, menurut Onong U Effendi yaitu keterampilan atau kegiatan mengolah bahan berita, mulai dari peliputan sampai kepada penyusunan yang layak disebarluaskan kepada masyarakat. Peristiwa besar ataupun kecil, tindakan organisasi ataupun individu, asal hal tersebut diperkirakan dapat menarik massa pembaca, pendengar, ataupun pemirsa.[3]

Berdasarkan uraian di atas, maka pengertian jurnalistik yang sebenarnya adalah suatu kegiatan yang berkaitan dengan pemberitaan, mulai dari pengumpulan bahan berita, penulisan hingga penyebarluasan berita.

2.        Fungsi Jurnalistik

Secara umum, jurnalistik atau pers (media massa) mempunyai fungsi penting pada masyarakat yaitu:[4]

1.        Fungsi Informasi

Kegiatan jurnalistik menghasilkan produk berupa berita dan informasi, kejadian-kejadian yang ada di masyarakat yang memiliki nilai berita dan orang merasa berkepentingan dengan berita tersebut maka jurnalis berkewajiban meliputnya.Misalnya kejadian tentang bencana alam, ketokohan seseorang, fenomena yang baru terjadi ataupun yang lain-lainnya.

2.        Pendidikan

Pers berfungsi sebagai pendidikan, melalui berbagai macam tulisan atau pesan-pesan yang diberikannya, pers bisa mendidik masyarakat pembacanya.

 

3.        Fungsi Hiburan.

Para jurnalis akan menulis suatu berita dengan hidup dan menarik. Mereka menyajikan informasi yang bersifat menhibur misalnya humor atau berita-berita ringan dimana seseorang tidak diharuskan berfikir secara tajam ataupun keras untuk memahami informasi tersebut. Sebagaimana keberadaan jurnalistik itu sendiri, kehadiran jurnalistik hanyalah untuk memenuhi kebutuhan seseorang akan infomasi.

4.        Fungsi Pengawasan

Beberapa jurnalis yang dalam pencarian informasi memasuki wilayah politik, ekonomi, sosial dan budaya.Dan mereka biasanya menggunakan paham kritis. Berita yang disampaikan tidak sekedar pemindahan informasi dari satu mulut ke telinga lain, tapi juga menelisik secara mendalam dan membaca muatan yang terkandung dalam suatu berita. Salah satu keharusan yang wajib dilakukan oleh jurnalis adalah menyampaikan suatu informasi dengan sesungguh-sungguhnya tanpa ada manipulasi atau penutupan data. Junalis harus memberitakan apa yang berjalan baik dan yang tidak berjalan baik, fungsi “watchdog” atau fungsi kontrol ini harus dilakukan dengan lebih aktif oleh agen berita dari pada kelompok masyarakat lainnya.

Dalam Undang-Undang Pers (UU No.11 tahun 1967, tentang ketentuan-ketentuan pokok pers), disebutkan dan diakui fungsi pers dan jurnalistik dalam bab 2 pasal 2-5 yaitu:[5]

a.         Mempertahankan UUD 1945.

b.        Memperjuangkan amanat penderitaan rakyat berlandaskan demokrasi Pancasila.

c.         Memperjuangkan kebenaran dan keadilan.

d.        Membina persatuan dan kesatuan bangsa.

e.         Menjadi penyalur pendapat umum dan konstruktif.

3.      Kemampuan Jurnalistik

            Pekerjaan utama seorang jurnalis, insan berita dan wartawan adalah mencari dan membuat berita. Berita tersebut yang nantinya akan disebarluaskan (dipublikasikan) kepada khalayak umum. Dalam kinerjanya, ada banyak tahapan yang harus dilakukan oleh seorang insan pers untuk membuat sebuah berita. Dari beberapa hal yang harus dilakukan, kemampuan jurnalistik diklasifikasikan menjadi tiga hal, yaitu:[6]

1)     Kegiatan pengumpulan berita

Suatu kejadian hanya akan menjadi perbincangan dari mulut ke mulut jika berita tersebut tidak dituangkan dalam media massa berupa surat kabar, televisi ataupun alat media massa yang lainnya. Oleh karena itu menjadi tugas seorang wartawan sebelum menulis berita yaitu mengumpulkan informasi, data maupun hal-hal lain yang berkaitan dengan pemberitaanya.

Dalam dunia jurnalistik, ada beberapa cara untuk mengumpulkan data, diantaranya adalah wawancara. Dalam peliputan berita seorang jurnalis kerap kali harus mencari berbagai informasi yang diperlukannya baik secara langsung ataupun tidak langsung dengan peristiwa yang sedang diliputnya. Berbagai informasi, selain didapat dengan cara melakukan observasi (pengamatan), juga bisa didapat dengan cara melakukan wawancara dengan narasumber atau tokoh-tokoh yang dapat memberikan informasi yang dibutuhkan.

Wawancara atau dalam bahasa Inggrisnya interview adalah suatu kegiatan berupa percakapan (tanya jawab/dialog) antara pewawancara (interviewer) dengan orang diwawancarai (interviewe) atau narasumber. Bertujuan untuk mendapatkan suatu informasi, penjelasan atau keterangan tentang suatu masalah.

2)        Kegiatan menulis berita

Ketrampilan menulis adalah satu ketrampilan berbahasa yang penting.Terlebih untuk insan pers, ketrampilan menulis ini merupakan cerminan dari kebiasaan baca. Seseorang akan mudah menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan apabila kaya kosakata dan itu didapat salah satunya dengan membaca.

Proses selanjutnya setelah reportase adalah menulis. Segala informasi yang telah didapat dari hasil reportase, wawancara, membaca atau studi kepustakaan kemudian dipelajari, dipilih atau diseleksi, diperiksa dan dianalisa, diklasifikasikan (dikelompokan) dan disusun menjadi sebuah tulisan yang sistematis, sesuai dengan bentuk tulisan yang dikehendaki.

3)        Melaporkan berita.

Wartawan atau jurnalistik adalah seseorang yang melakukan kegiatan jurnalistik atau orang yang secara teratur menuliskan berita (berupa laporan) dan tulisannya dikirimkan/dimuat di media massa secara teratur. Melaporkan berita adalah proses penyampaian atau mempublikasikan berita kepada masyarakat melalui media massa seperti koran, televisi, radio, majalah, film dokumentasi, dan internet.

Media massa juga mempunyai tugas dan kewajiban untuk mengakomodasi segala jenis isi dan peristiwa di dunia melalui pemberitaan atau publikasinya dalam aneka wujud. Media memproduksi dan menyebarkan informasi yang berupa produk budaya atau pesan yang mencerminkan budaya dalam masyarakat kepada publik secara luas agar produk atau pesan tersebut dapat digunakan dan dikonsumsi oleh publik. Keberadaan media massa sebagai sistem tersendiri tidak bisa dilepaskan dari sistem kemasyarakatan yang lebih luas seperti politik, ekonomi, olahraga, hiburan, sosial dan budaya.

4.        Produk Jurnalistik

Produk jurnalistik adalah surat kabar, tabloid, majalah, buletin, atau berkala lainnya seperti radio, televisi, dan media online (internet). Namun tidak setiap suratkabar disebut produk jurnalistik. Surat kabar, tabloid, majalah, dan buletin dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar:[7]

a.         Berita (news).

b.        Opini (views).

c.         Iklan (advertising).

Dari tiga kelompok besar itu, hanya berita (news) dan opini (views) yang disebut produk jurnalistik. Kelompok berita (news), meliputi antara lain berita langsung (straight news), berita menyeluruh (comprehensive news), berita mendalam (depth news), pelaporan mendalam (depth reporting), berita penyelidikan (investigative news), berita khas bercerita (feature news), berita gambar (photo news).[8]Berita (news)adalah informasi baru atau informasi mengenai sesuatu yang sedang terjadi, disajikan lewat media cetak, siaran televisi, radio dan internet (online).[9] Jadi berita adalah laporan kejadian atau peristiwa yang menarik dan penting disajikan secepat mungkin kepada khalayak luas melalui media massa.

Kelompok opini (views), meliputi tajuk rencana, karikatur, pojok, artikel, kolom, esai, dan surat pembaca. Opini (opinion) adalah pendapat, ide atau pikiran untuk menjelaskan kecenderungan tertentu terhadap perspektif dan ideologi akan tetapi bersifat tidak objektif karena belum mendapatkan pemastian atau pengujian. Meskipun bukan merupakan sebuah fakta akan tetapi jika suatu saat opini dapat dibuktikan maka opini tersebut akan berubah menjadi sebuah fakta.[10]Jadi opini adalah suatu perkiraan atau anggapan tentang suatu hal.Opini adalah pendapat seseorang tentang sesuatu yang belum tentu kebenarannya.

Sedangkan kelompok iklan, mencakup berbagai jenis dan sifat iklan mulai dari iklan produk barang dan jasa, iklan keluarga seperti iklan duka cita, sampai kepada iklan layanan masyarakat.Iklan merupakan iklan berwujud penyajian informasi nonpersonal tentang suatu produk, merek, perusahaan, atau toko yang dijalankan dengan kompensasi biaya tertentu. Maka dari itu, iklan berupa proses komunikasi yang memiliki tujuan membujuk atau menarik orang banyak untuk mengambil tindakan yang menguntungkan pihak yang membuat iklan.[11]Jadi iklan adalah informasi yang isinya membujuk khalayak banyak atau orang banyak supaya tertarik kepada barang atau jasa yang ditawarkan.

Ada 6 macam kelompok opini adalah sebagai berikut:[12]

1.        Tajuk Rencana

Tajuk rencana atau editorial adalah opini berisi pendapat dan sikap resmi suatu media sebagai institusi penerbitan terhadap persoalan aktual, fenomenal, dan atau kontroversial yang berkembang dalam masyarakat.Opini yang ditulis pihak redaksi diasumsikan mewakili sekaligus mencerminkan pendapat dan sikap resmi media pers bersangkutan secara keseluruhan sebagai suatu lembaga penerbitan media berkala. Suara tajuk rencana bukanlah suara perorangan atau pribadi-pribadi yang terdapat di jajaran redaksi atau di bagian produksi dan sirkulasi, melainkan suara kolektif seluruh wartawan dan karyawan dari suatu lembaga penerbitan pers. Karena merupakan suara lembaga, maka tajuk rencana tidak ditulis dengan mencantumkan nama penulisnya.

Karakter dan kepribadian pers terdapat sekaligus tercermin dalam tajuk rencana. Tajuk rencana pers papan atas atau pers papan atas atau pers misalnya, memiliki ciri antara lain senantiasa hati-hati, normatif, cenderung konservatif, dan menghindari pendekatan kritik yang bersifat telanjang atau tembak langsung dalam alasan- alasannya. Dalam pemuatan tajuk rencana pers papan atas, pertimbangan aspek politis lebih dominan dibandingkan dengan pertimbangan sosiologis.

Pers papan atas memiliki kepentingan yang jauh lebih kompleks dibandingkan dengan pers papan tengah atau pers papan bawah.Kepentingan yang sifatnya jauh lebih kompleks itulah yang mendorong pers papan atas untuk cenderung bersikap konservatif dan akomodatif dalam kebijakan pemberitaan serta dalam pernyataan pendapat dan sikap melalui saluran resmi tajuk rencana.Inilah konsekuensi pers modern sebagai industri jasa informasi yang bersifat padat karya sekaligus padat modal.

2.        Karikatural

Secara etimologis, karikatur berasal dari bahasa Italia “caricare” artinya melebih-lebihkan. Kata caricare itu sendiri dipengaruhi kata carattere, juga bahasa Italia, yang berarti karakter dan kata cara bahasa Spanyol yang berarti wajah. Menurut Lukman, perkataan karikatur mulai digunakan untuk pertama kalinya oleh Mossini, orang Perancis, dalam sebuah karyanya berjudul Diverse Figure pada 1646. Sedangkan orang yang pertama memperkenalkan kata caricature adalah Lorenzo Bernini untuk karya-karyanya di Perancis pada 1665.Lorenzo Bernini adalah seorang pemahat patung pada zaman Renaissance (Britannica, 1968:905).Dengan demikian, secara etimologis karikatur adalah gambar wajah dan karakteristik seseorang yang diekspresikan secara berlebih-lebihan.

Dalam Encyclopedia of The Art dijelaskan, karikatur merupakan representasi sikap atau karakter seseorang dengan cara melebih-lebihkan sehingga melahirkan kelucuan. Karikatur juga sering dipakai sebagai sarana kritik sosial dan politik.Caricature is representation of a person's characteristic or attitudes in exaggeratedmariner so as to produce, aludicorus effect. In frequently uses as aninstrument of' social and political criticsm.

Menggambar karikatur termasuk proses kreatif seorang ahli grafis sekaligus seorang jurnalis. Sebagai ahli grafis, ia harus dapat menyajikan gambar yang memenuhi kaidah komposisi, gradasi, dan aksentuasi secara tajam dan serasi. Sebagai jurnalis, harus pandai memilih topik yang aktual, menyangkut kepentingan masyarakat umum, dan mengemasnya dalam paduan gambar serta kata-kata yang singkat, lugas, sederhana. Secara teknis jurnalistik, karikatur diartikan sebagai opini redaksi media dalam bentuk gambar yang sarat dengan muatan kritik sosial dengan memasukkan unsur kelucuan atau humor agar siapa pun yang melihatnya bisa tersenyum, termasuk tokoh atau objek yang dikarikaturkan itu sendiri.

3.        Pojok

Pojok adalah kutipan pernyataan singkat narasumber atau peristiwa yang dianggap menarik atau kontroversial, kemudian dikomentari oleh pihak redaksi dengan kata-kata atau kalimat yang mengusik, menggelitik, dan reflektif.Tujuannya untuk mencubit, mengingatkan, atau menggugat sesuai dengan fungsi kontrol sosial yang dimiliki pers. Sesuai dengan namanya, pojok ditempatkan di sebelah pojok atau sudut. Dalam setiap edisi penerbitan, pojok memuat tiga sampai lima butir kutipan pernyataan atau peristiwa menarik untuk dikomentari.

Dalam pandangan wartawan senior dan tokoh pers terkemuka Jakob Oetama, pojok adalah pada mulanya sentilan ringan, kini telah berubah menjadi semacam tajuk rencana kecil-kecilan. Bahkan menurut seorang pengamat, pojok memiliki kelebihan lain dibandingkan dengan editorial sekalipun. Pojok memuat pernyataan teramat pendek, ringan, namun sangat mengenai sasaran.[13]

Jadi bedasarkan uraian di atas, pojok adalah kutipan pernyataan singkat nara sumber atau peristiwa tertentu yang dianggap menarik atau kontrovesial, untuk kemudian dikomentari oleh pihak redaksi dengan kata – kata atau kalimat yang mengusik, menggelitik, dan ada kalanya reflektif.

Rubrik pojok memiliki ciri-ciri yang hampir sama pada setiap surat kabar di Indonesia:[14]

a.         Pojok berisi dua alinea. Alinea pertama menyajikan suntingan berita atau peristiwa. Alinea kedua menyajikan opini atau pandangan-pandangan dari lembaga surat kabar sebagai respons terhadap isi yang tersaji dalam alinea pertama.

b.        Isi yang disajikan baik dalam alinea pertama maupun dalam alinea kedua, biasanya terangkai dalam kalimat-kalimat pendek.

c.         Opini atau pandangan-pandangan dari lembaga surat kabar disajikan dalam kalimat-kalimat yang bersifat sinis dan humoris. Selain ketiga ciri itu, ada ciri lain yang melekat dalam pojok, yakni judul rubrik pojok dan nama penjaga pojok itu sendiri.

Topik-topik yang disajikan dalam rubrik pojok sangat luas seperti sosial, ekonomi, politik, militer, olahraga, budaya, agama, kesenian, kebudayaan, kriminalitas, kemanusiaan, tragedi, flora, dan fauna.Gaya penyajian pojok sangat bebas, baik dengan reflektif maupun humoris.

4.        Artikel

Artikel adalah tulisan lepas berisi opini seseorang yang mengupas tuntas suatu masalah tertentu yang sifatnya actual atau kontroversial dengan tujuan untuk memberitahu (informatif), mempengaruhi dan meyakinkan (persuasif argumentatif), atau menghibur khalayak pembaca (rekreatif).Selain itu juga artikel yang ditulis tersebut tidak terikat dengan berita atau laporan tertentu.Ditulisnya boleh kapan saja, dimana saja, dan oleh siapa saja.[15]

Jadi artikel bisa didefinisikan bahwa tulisan lepas berisi opini seseorang atau kelompok yangmengupas tuntas suatu masalah tertentu yang sifatnya aktual dankontroversial untuk tujuan memberi informasi, mempengaruhi danmeyakinkan atau menghibur khalayak pembaca

Secara umum artikel dapat dibedakan menurut jenis Serta tingkat kesulitan yang dihadapinya, antara lain:[16]

a.         Artikel Praktis

Artikel praktis lebih banyak bersifat petunjuk praktis cara melakukan sesuatu (how to do it), misalnya petunjuk cara membuka internet, cara praktis merawat tanaman bonsai, sepuluh langkah membuat kue tart, atau cara cepat menguasai rumus dan hitungan matematika.

Artikel praktis lebih menekankan pada aspek ketelitian dan keterampilan dari pada masalah pengamatan dan pengembangan pengetahuan serta analisis peristiwa.Artikel praktis biasanya ditulis dengan menggunakan pola kronologis.Artinya pesan disusun berdasarkan urutan waktu atau tahapan pekerjaan.

 

 

b.        Artikel Ringan

Artikel ringan lazim ditemukan pada rubrik anak-anak, remaja, wanita, keluarga. Artikel jenis ini lebih banyak mengangkat topik bahasa yang ringan dengan cara penyajian yang ringan pula, dalam arti tidak menguras pikiran. Untuk menerima atau mencernanya, sebagai pembaca tidak memerlukan persiapan dan perhatian secara khusus.Artikel ringan bisa dibaca secara sekilas di tempat praktis dokter atau di ruang-ruang tunggu di terminal, stasiun, atau bandara. Artikel ringan dikemas dengan gaya paduan informasi dan hiburan (infotainment).

c.         Artikel Halaman Opini

Artikel halaman opini lazim ditemukan pada halaman khusus opini bersama tulisan opini yang lain yakni tajuk rencana, karikatur, pojok, kolom, dan surat pembaca. Artikel opini mengupas suatu masalah secara serius dan tuntas dengan merujuk pada pendekatan analitis akademis.Sifatnya relatif berat.Karena, artikel opini kerap ditulis oleh mereka yang memiliki latar belakang pendidikan, pengetahuan, keahlian, atau pengalaman memadai dibidangnya masing-masing.

d.        Artikel Analisis Ahli

Artikel analisis ahli biasa ditemukan pada halaman-halaman berita, atau halaman dan.rubrik-rubrik khusus tertentu. Artikel jenis ini ditulis oleh ahli atau pakar di bidangnya dalam bahasa yang populer dan komunikatif.Artikel analisis ahli mengupas secara tajam dan mendalam suatu persoalan yang sedang menjadi sorotan dan bahan pembicaraan hangat masyarakat.Topik yang diangkat dan dibahas macam-macam, seperti ekonomi, politik, pendidikan, sosial, agama, budaya, industry dan iptek.

Beberapa surat kabar besar di Indonesia, menyediakan ruangan khusus untuk artikel analisis ahli ini dalam halaman-halaman berita atau halaman-halaman dan rubrik khusus tertentu mereka. Salah satu tujuannya antara lain, mendekatkan pokok masalah yang sedang disorot dalam berita sebagai suatu persoalan yang mengandung pertanyaan, dengan tinjauan pakar di bidang yang sama yang memberikan penjelasan dan jawaban kepada sidang pembaca.

5.        Kolom

Kolom adalah opini singkat seseorang yang lebih banyak menekankan aspek pengamatan dan pemaknaan terhadap suatu persoalan atau keadaan yang terdapat dalam masyarakat.Kolom, berasal dari bahasa Inggris, column.Orangnya disebut columnist. Dalam bahasa Inggris, istilah columnis diartikan sebagai penulis karangan khusus berupa komentar, saran, informasi, atau hiburan, pada surat kabar atau majalah secara reguler.

 Dalam bahasa Indonesia, Anton Moeliono menjelaskan arti kolumnis sebagai penulis yang menyumbangkan artikel pada surat kabar atau majalah secara tetap.[17]Jadi kolom adalah sebuah rubrik khusus yang berisi karangan dan tulisan pendek yang berisikan pendapat tentang suatu masalah.

 

6.        Surat Pembaca

Surat pembaca adalah opini singkat yang ditulis oleh pembaca dan dimuat dalam rubrik khusus surat pembaca. Surat pembaca biasanya berisi keluhan atau komentar pembaca tentang apa saja yang menyangkut kepentingan dirinya atau masyarakat. Panjang surat pembaca rata-rata dua sampai empat paragraf. Rubrik surat pembaca merupakan layanan publik dari pihak redaksi terhadap masyarakat.[18]

Dalam rubrik ini, pembaca boleh menuliskan apa saja dan ditujukan kepada siapa saja. Syaratnya antara lain pembaca harus menyertakan fotokopi kartu tanda penduduk (KTP) atau identitas lain yang masih berlaku seperti fotokopi surat izin mengemudi (SIM) atau kartu mahasiswa. Topik yang dibahas sangat bervariasi, misalnya tentang telepon umum yang tidak berfungsi, jalan berlubang, layanan petugas kantor-kantor pemerintah yang buruk, kinerja dan layanan pihak perusahaan atau badan dan organisasi yang mengecewakan, atau makin banyaknya tayangan acara pada televisi yang dianggap menonjolkan sisi pornografi, kekerasan, dan sadisme.[19]

Jadi surat pembaca adalah opini singkat yang ditulis pembaca dan dimuat khusus pada rubrik khusus surat pembaca. Biasanya berisi komentar atau keluhan pembaca tentang apa saja yang menyangkut kepentingan dirinya dan kepentingan masyarakat. Panjang surat pembaca rata-rata 2 sampai 4 paragraf. Rubrik surat pembaca lebih merupakan layanan publik dari pihak redaksi terhadap masyarakat.



                [1]Hikmat Kusumaningrat, Purnama Kusumaningrat, Jurnalistik Teori dan Praktik, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hal. 15.

                [2]Kostadi Suhandang, Pengantar Jurnalistik, (Bandung: Nuansa, 2004), hal. 23.

[3] Onong Uchjana, Effendy, Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek, (Bandung: Remaja Karya, 1986), hal. 96.

[4] Ahmad, Y Samanto, Jurnalistik Islam, (Jakarta: Harakah, 2002), hal. 64.

                [5]Ahmad, Y Samanto, Jurnalistik Islam,……hal. l65.

                [6]Ibid,……. hal. 126-127.

 

[7] Juwito, Menulis Berita dan Features, (Surabaya: Unesa University Press, 2008), hal. 5.

[8] Ibid,……., hal. 6.

[9] Ibid,……., hal. 6.

[10] Juwito, Menulis Berita dan Features………., hal. 6.

[11] Ibid,…….., hal. 6.

[12] Ibid,……, hal. 1-4.

[13] Juwito, Menulis Berita dan Features………., hal. 9.

[14] Sumadiria, AS Haris, Menulis Artikel dan Tajuk Rencana: Paduan PraktisPenulis dan Jurnalis Profesional,……., hal. 3.

[15] Juwito, Menulis Berita dan Features………., hal. 10

[16] Kustadi Suhandang, Pengantar Jurnalistik: Seputar Organisasi, Produk dan Kode Etik, (Bandung: Nuasa, 2004), hal. 62.

[17] Kustadi Suhandang, Pengantar Jurnalistik: Seputar Organisasi, Produk dan Kode Etik,……., hal. 162

[18] Kustadi Suhandang, Pengantar Jurnalistik: Seputar Organisasi, Produk dan Kode Etik,…… hal. 163.

[19]Ibid,…..hal. 163.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar