1.
Pengertian
Jurnalistik.
Manusia menciptakan
alat komunikasi.Sebelum ditemukan alat-alat audio visual seperti radio,
televisi dan internet, manusia menggunakan media kertas sebagai sarana
pemberitaan mereka.Dari sinilah kemudian ilmu tulis menulis berkembang yang
kemudian dikenal dengan istilah jurnalistik.
Jurnalistik atau journalisme berasal dari perkataan journal, artinya catatan harian, atau
catatan mengenai kejadian sehari-hari,
atau biasa juga berarti surat kabar.
Dari perkataan itulah lahir kata jurnalis, yaitu orang yang melakukan
pekerjaan jurnalistik.[1]
Sementara ada juga yang
mendefinisikan jurnalistik yaitu seni dan ketrampilan mencari, mengumpulkan,
mengolah, menyusun, dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi
sehari-hari secara indah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani
khalayaknya.[2]
Definisi lain tentang
Jurnalistik, menurut Onong U Effendi yaitu keterampilan atau kegiatan mengolah
bahan berita, mulai dari peliputan sampai kepada penyusunan yang layak
disebarluaskan kepada masyarakat. Peristiwa besar ataupun kecil, tindakan
organisasi ataupun individu, asal hal tersebut diperkirakan dapat menarik massa
pembaca, pendengar, ataupun pemirsa.[3]
Berdasarkan uraian di atas, maka
pengertian jurnalistik yang sebenarnya adalah suatu kegiatan yang berkaitan
dengan pemberitaan, mulai dari pengumpulan bahan berita, penulisan hingga
penyebarluasan berita.
2.
Fungsi
Jurnalistik
Secara umum,
jurnalistik atau pers (media massa)
mempunyai fungsi penting pada masyarakat yaitu:[4]
1.
Fungsi Informasi
Kegiatan jurnalistik menghasilkan
produk berupa berita dan informasi, kejadian-kejadian yang ada di masyarakat
yang memiliki nilai berita dan orang merasa berkepentingan dengan berita
tersebut maka jurnalis berkewajiban meliputnya.Misalnya kejadian tentang
bencana alam, ketokohan seseorang, fenomena yang baru terjadi ataupun yang
lain-lainnya.
2.
Pendidikan
Pers
berfungsi sebagai pendidikan, melalui berbagai macam tulisan atau pesan-pesan
yang diberikannya, pers bisa mendidik masyarakat pembacanya.
3.
Fungsi Hiburan.
Para jurnalis akan menulis suatu
berita dengan hidup dan menarik. Mereka menyajikan informasi yang bersifat menhibur
misalnya humor atau berita-berita ringan dimana seseorang tidak diharuskan
berfikir secara tajam ataupun keras untuk memahami informasi tersebut.
Sebagaimana keberadaan jurnalistik itu sendiri, kehadiran jurnalistik hanyalah
untuk memenuhi kebutuhan seseorang akan infomasi.
4.
Fungsi
Pengawasan
Beberapa
jurnalis yang dalam pencarian informasi memasuki wilayah politik, ekonomi,
sosial dan budaya.Dan mereka biasanya menggunakan paham kritis. Berita yang
disampaikan tidak sekedar pemindahan informasi dari satu mulut ke telinga lain,
tapi juga menelisik secara mendalam dan membaca muatan yang terkandung dalam
suatu berita. Salah satu keharusan yang wajib dilakukan oleh jurnalis adalah
menyampaikan suatu informasi dengan sesungguh-sungguhnya tanpa ada manipulasi
atau penutupan data. Junalis harus memberitakan apa yang berjalan baik dan yang
tidak berjalan baik, fungsi “watchdog”
atau fungsi kontrol ini harus dilakukan dengan lebih aktif oleh agen berita
dari pada kelompok masyarakat lainnya.
Dalam Undang-Undang Pers (UU No.11 tahun 1967, tentang
ketentuan-ketentuan pokok pers), disebutkan dan diakui fungsi pers dan
jurnalistik dalam bab 2 pasal 2-5 yaitu:[5]
a.
Mempertahankan
UUD 1945.
b.
Memperjuangkan
amanat penderitaan rakyat berlandaskan demokrasi Pancasila.
c.
Memperjuangkan
kebenaran dan keadilan.
d.
Membina
persatuan dan kesatuan bangsa.
e.
Menjadi
penyalur pendapat umum dan konstruktif.
3. Kemampuan
Jurnalistik
Pekerjaan
utama seorang jurnalis, insan berita dan wartawan adalah mencari dan membuat
berita. Berita tersebut yang nantinya akan disebarluaskan (dipublikasikan)
kepada khalayak umum. Dalam kinerjanya, ada banyak tahapan yang harus dilakukan
oleh seorang insan pers untuk membuat sebuah berita. Dari beberapa hal yang
harus dilakukan, kemampuan jurnalistik diklasifikasikan menjadi tiga hal,
yaitu:[6]
1)
Kegiatan
pengumpulan berita
Suatu kejadian hanya akan menjadi perbincangan dari mulut ke
mulut jika berita tersebut tidak dituangkan dalam media massa berupa surat
kabar, televisi ataupun alat media massa yang lainnya. Oleh karena itu menjadi
tugas seorang wartawan sebelum menulis berita yaitu mengumpulkan informasi,
data maupun hal-hal lain yang berkaitan dengan pemberitaanya.
Dalam dunia jurnalistik, ada beberapa cara untuk
mengumpulkan data, diantaranya adalah wawancara. Dalam peliputan berita seorang
jurnalis kerap kali harus mencari berbagai informasi yang diperlukannya baik
secara langsung ataupun tidak langsung dengan peristiwa yang sedang diliputnya.
Berbagai informasi, selain didapat dengan cara melakukan observasi
(pengamatan), juga bisa didapat dengan cara melakukan wawancara dengan
narasumber atau tokoh-tokoh yang dapat memberikan informasi yang dibutuhkan.
Wawancara atau dalam bahasa Inggrisnya interview adalah suatu kegiatan berupa percakapan (tanya
jawab/dialog) antara pewawancara (interviewer)
dengan orang diwawancarai (interviewe)
atau narasumber. Bertujuan untuk mendapatkan suatu informasi, penjelasan atau
keterangan tentang suatu masalah.
2)
Kegiatan
menulis berita
Ketrampilan menulis adalah satu ketrampilan berbahasa yang
penting.Terlebih untuk insan pers, ketrampilan menulis ini merupakan cerminan
dari kebiasaan baca. Seseorang akan mudah menuangkan gagasannya dalam bentuk
tulisan apabila kaya kosakata dan itu didapat salah satunya dengan membaca.
Proses selanjutnya setelah reportase adalah menulis. Segala
informasi yang telah didapat dari hasil reportase, wawancara, membaca atau
studi kepustakaan kemudian dipelajari, dipilih atau diseleksi, diperiksa dan
dianalisa, diklasifikasikan (dikelompokan) dan disusun menjadi sebuah tulisan
yang sistematis, sesuai dengan bentuk tulisan yang dikehendaki.
3)
Melaporkan
berita.
Wartawan atau jurnalistik adalah seseorang yang melakukan
kegiatan jurnalistik atau orang yang
secara teratur menuliskan berita (berupa laporan) dan tulisannya
dikirimkan/dimuat di media
massa secara teratur. Melaporkan berita adalah proses penyampaian atau
mempublikasikan berita kepada masyarakat melalui media massa seperti koran, televisi, radio, majalah, film
dokumentasi, dan internet.
Media massa juga
mempunyai tugas dan kewajiban untuk mengakomodasi segala jenis isi dan
peristiwa di dunia melalui pemberitaan atau publikasinya dalam aneka wujud.
Media memproduksi dan menyebarkan informasi yang berupa produk budaya atau
pesan yang mencerminkan budaya dalam masyarakat kepada publik secara luas agar
produk atau pesan tersebut dapat digunakan dan dikonsumsi oleh publik.
Keberadaan media massa sebagai sistem tersendiri tidak bisa dilepaskan dari
sistem kemasyarakatan yang lebih luas seperti politik, ekonomi, olahraga,
hiburan, sosial dan budaya.
4.
Produk Jurnalistik
Produk jurnalistik adalah surat kabar, tabloid, majalah,
buletin, atau berkala lainnya seperti radio, televisi, dan media online (internet). Namun tidak setiap
suratkabar disebut produk jurnalistik. Surat kabar, tabloid, majalah, dan
buletin dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar:[7]
a.
Berita
(news).
b.
Opini
(views).
c.
Iklan
(advertising).
Dari tiga kelompok besar itu, hanya berita (news) dan opini (views) yang disebut produk jurnalistik. Kelompok berita (news), meliputi antara lain berita
langsung (straight news), berita
menyeluruh (comprehensive news),
berita mendalam (depth news),
pelaporan mendalam (depth reporting),
berita penyelidikan (investigative news),
berita khas bercerita (feature news),
berita gambar (photo news).[8]Berita
(news)adalah
informasi baru atau informasi mengenai sesuatu yang sedang terjadi, disajikan
lewat media cetak, siaran televisi, radio dan internet (online).[9]
Jadi berita adalah laporan kejadian atau peristiwa yang
menarik dan penting disajikan secepat mungkin kepada khalayak luas melalui
media massa.
Kelompok opini (views),
meliputi tajuk rencana, karikatur, pojok, artikel, kolom, esai, dan surat
pembaca. Opini (opinion) adalah pendapat, ide atau pikiran untuk menjelaskan
kecenderungan tertentu terhadap perspektif dan ideologi akan tetapi bersifat
tidak objektif karena belum mendapatkan pemastian atau pengujian. Meskipun
bukan merupakan sebuah fakta akan tetapi jika suatu saat opini dapat dibuktikan
maka opini tersebut akan berubah menjadi sebuah fakta.[10]Jadi
opini adalah suatu perkiraan atau anggapan tentang
suatu hal.Opini adalah pendapat seseorang tentang sesuatu yang belum tentu
kebenarannya.
Sedangkan kelompok iklan, mencakup berbagai jenis dan sifat
iklan mulai dari iklan produk barang dan jasa, iklan keluarga seperti iklan
duka cita, sampai kepada iklan layanan masyarakat.Iklan merupakan iklan berwujud penyajian informasi nonpersonal tentang suatu
produk, merek, perusahaan, atau toko yang dijalankan dengan kompensasi biaya
tertentu. Maka dari itu, iklan berupa proses komunikasi yang memiliki tujuan
membujuk atau menarik orang banyak untuk mengambil tindakan yang menguntungkan
pihak yang membuat iklan.[11]Jadi
iklan adalah informasi yang isinya membujuk khalayak
banyak atau orang banyak supaya tertarik kepada barang atau jasa yang
ditawarkan.
Ada 6 macam kelompok opini adalah sebagai berikut:[12]
1.
Tajuk Rencana
Tajuk rencana atau editorial adalah opini berisi pendapat
dan sikap resmi suatu media sebagai institusi penerbitan terhadap persoalan
aktual, fenomenal, dan atau kontroversial yang berkembang dalam
masyarakat.Opini yang ditulis pihak redaksi diasumsikan mewakili sekaligus
mencerminkan pendapat dan sikap resmi media pers bersangkutan secara
keseluruhan sebagai suatu lembaga penerbitan media berkala. Suara tajuk rencana
bukanlah suara perorangan atau pribadi-pribadi yang terdapat di jajaran redaksi
atau di bagian produksi dan sirkulasi, melainkan suara kolektif seluruh
wartawan dan karyawan dari suatu lembaga penerbitan pers. Karena merupakan
suara lembaga, maka tajuk rencana tidak ditulis dengan mencantumkan nama
penulisnya.
Karakter dan kepribadian pers terdapat sekaligus tercermin
dalam tajuk rencana. Tajuk rencana pers papan atas atau pers papan atas atau
pers misalnya, memiliki ciri antara lain senantiasa hati-hati, normatif,
cenderung konservatif, dan menghindari pendekatan kritik yang bersifat telanjang
atau tembak langsung dalam alasan- alasannya. Dalam pemuatan tajuk rencana pers
papan atas, pertimbangan aspek politis lebih dominan dibandingkan dengan
pertimbangan sosiologis.
Pers papan atas memiliki kepentingan yang jauh lebih
kompleks dibandingkan dengan pers papan tengah atau pers papan
bawah.Kepentingan yang sifatnya jauh lebih kompleks itulah yang mendorong pers
papan atas untuk cenderung bersikap konservatif dan akomodatif dalam kebijakan
pemberitaan serta dalam pernyataan pendapat dan sikap melalui saluran resmi
tajuk rencana.Inilah konsekuensi pers modern sebagai industri jasa informasi
yang bersifat padat karya sekaligus padat modal.
2.
Karikatural
Secara etimologis, karikatur berasal dari bahasa Italia “caricare” artinya melebih-lebihkan.
Kata caricare itu sendiri dipengaruhi
kata carattere, juga bahasa Italia,
yang berarti karakter dan kata cara bahasa Spanyol yang berarti wajah. Menurut
Lukman, perkataan karikatur mulai digunakan untuk pertama kalinya oleh Mossini, orang Perancis, dalam sebuah
karyanya berjudul Diverse Figure pada
1646. Sedangkan orang yang pertama memperkenalkan kata caricature adalah Lorenzo
Bernini untuk karya-karyanya di Perancis pada 1665.Lorenzo Bernini adalah seorang pemahat patung pada zaman Renaissance (Britannica, 1968:905).Dengan
demikian, secara etimologis karikatur adalah gambar wajah dan karakteristik
seseorang yang diekspresikan secara berlebih-lebihan.
Dalam Encyclopedia of
The Art dijelaskan, karikatur merupakan representasi sikap atau karakter
seseorang dengan cara melebih-lebihkan sehingga melahirkan kelucuan. Karikatur
juga sering dipakai sebagai sarana kritik sosial dan politik.Caricature is representation of a person's
characteristic or attitudes in exaggeratedmariner so as to produce, aludicorus
effect. In frequently uses as aninstrument of' social and political criticsm.
Menggambar karikatur termasuk proses kreatif seorang ahli
grafis sekaligus seorang jurnalis. Sebagai ahli grafis, ia harus dapat
menyajikan gambar yang memenuhi kaidah komposisi, gradasi, dan aksentuasi
secara tajam dan serasi. Sebagai jurnalis, harus pandai memilih topik yang
aktual, menyangkut kepentingan masyarakat umum, dan mengemasnya dalam paduan
gambar serta kata-kata yang singkat, lugas, sederhana. Secara teknis
jurnalistik, karikatur diartikan sebagai opini redaksi media dalam bentuk
gambar yang sarat dengan muatan kritik sosial dengan memasukkan unsur kelucuan
atau humor agar siapa pun yang melihatnya bisa tersenyum, termasuk tokoh atau
objek yang dikarikaturkan itu sendiri.
3.
Pojok
Pojok adalah kutipan pernyataan singkat narasumber atau
peristiwa yang dianggap menarik atau kontroversial, kemudian dikomentari oleh
pihak redaksi dengan kata-kata atau kalimat yang mengusik, menggelitik, dan
reflektif.Tujuannya untuk mencubit, mengingatkan, atau menggugat sesuai dengan
fungsi kontrol sosial yang dimiliki pers. Sesuai dengan namanya, pojok
ditempatkan di sebelah pojok atau sudut. Dalam setiap edisi penerbitan, pojok
memuat tiga sampai lima butir kutipan pernyataan atau peristiwa menarik untuk
dikomentari.
Dalam pandangan wartawan senior dan tokoh pers terkemuka
Jakob Oetama, pojok adalah pada mulanya sentilan ringan, kini telah berubah
menjadi semacam tajuk rencana kecil-kecilan. Bahkan menurut seorang pengamat,
pojok memiliki kelebihan lain dibandingkan dengan editorial sekalipun. Pojok
memuat pernyataan teramat pendek, ringan, namun sangat mengenai sasaran.[13]
Jadi bedasarkan uraian di atas, pojok adalah kutipan pernyataan singkat nara sumber atau
peristiwa tertentu yang dianggap menarik atau kontrovesial, untuk kemudian
dikomentari oleh pihak redaksi dengan kata – kata atau kalimat yang mengusik,
menggelitik, dan ada kalanya reflektif.
Rubrik pojok memiliki ciri-ciri yang hampir sama pada setiap
surat kabar di Indonesia:[14]
a.
Pojok
berisi dua alinea. Alinea pertama menyajikan suntingan berita atau peristiwa.
Alinea kedua menyajikan opini atau pandangan-pandangan dari lembaga surat kabar
sebagai respons terhadap isi yang tersaji dalam alinea pertama.
b.
Isi
yang disajikan baik dalam alinea pertama maupun dalam alinea kedua, biasanya
terangkai dalam kalimat-kalimat pendek.
c.
Opini
atau pandangan-pandangan dari lembaga surat kabar disajikan dalam
kalimat-kalimat yang bersifat sinis dan humoris. Selain ketiga ciri itu, ada
ciri lain yang melekat dalam pojok, yakni judul rubrik pojok dan nama penjaga
pojok itu sendiri.
Topik-topik yang disajikan dalam rubrik pojok sangat luas
seperti sosial, ekonomi, politik, militer, olahraga, budaya, agama, kesenian,
kebudayaan, kriminalitas, kemanusiaan, tragedi, flora, dan fauna.Gaya penyajian
pojok sangat bebas, baik dengan reflektif maupun humoris.
4.
Artikel
Artikel adalah tulisan lepas berisi opini seseorang yang
mengupas tuntas suatu masalah tertentu yang sifatnya actual atau kontroversial
dengan tujuan untuk memberitahu (informatif),
mempengaruhi dan meyakinkan (persuasif
argumentatif), atau menghibur khalayak pembaca (rekreatif).Selain itu juga artikel yang ditulis tersebut tidak
terikat dengan berita atau laporan tertentu.Ditulisnya boleh kapan saja, dimana
saja, dan oleh siapa saja.[15]
Jadi artikel bisa didefinisikan bahwa tulisan lepas berisi opini
seseorang atau kelompok yangmengupas tuntas suatu masalah tertentu yang
sifatnya aktual dankontroversial untuk tujuan memberi informasi, mempengaruhi
danmeyakinkan atau menghibur khalayak pembaca
Secara umum artikel dapat dibedakan menurut jenis Serta
tingkat kesulitan yang dihadapinya, antara lain:[16]
a.
Artikel Praktis
Artikel praktis lebih banyak bersifat petunjuk praktis cara
melakukan sesuatu (how to do it),
misalnya petunjuk cara membuka internet, cara praktis merawat tanaman bonsai, sepuluh
langkah membuat kue tart, atau cara cepat menguasai rumus dan hitungan
matematika.
Artikel praktis lebih menekankan pada aspek ketelitian dan
keterampilan dari pada masalah pengamatan dan pengembangan pengetahuan serta
analisis peristiwa.Artikel praktis biasanya ditulis dengan menggunakan pola
kronologis.Artinya pesan disusun berdasarkan urutan waktu atau tahapan
pekerjaan.
b.
Artikel Ringan
Artikel ringan lazim ditemukan pada rubrik anak-anak,
remaja, wanita, keluarga. Artikel jenis ini lebih banyak mengangkat topik
bahasa yang ringan dengan cara penyajian yang ringan pula, dalam arti tidak
menguras pikiran. Untuk menerima atau mencernanya, sebagai pembaca tidak
memerlukan persiapan dan perhatian secara khusus.Artikel ringan bisa dibaca
secara sekilas di tempat praktis dokter atau di ruang-ruang tunggu di terminal,
stasiun, atau bandara. Artikel ringan dikemas dengan gaya paduan informasi dan
hiburan (infotainment).
c.
Artikel Halaman Opini
Artikel halaman opini lazim ditemukan pada halaman khusus
opini bersama tulisan opini yang lain yakni tajuk rencana, karikatur, pojok,
kolom, dan surat pembaca. Artikel opini mengupas suatu masalah secara serius
dan tuntas dengan merujuk pada pendekatan analitis akademis.Sifatnya relatif
berat.Karena, artikel opini kerap ditulis oleh mereka yang memiliki latar
belakang pendidikan, pengetahuan, keahlian, atau pengalaman memadai dibidangnya
masing-masing.
d.
Artikel Analisis Ahli
Artikel analisis ahli biasa ditemukan pada halaman-halaman
berita, atau halaman dan.rubrik-rubrik khusus tertentu. Artikel jenis ini
ditulis oleh ahli atau pakar di bidangnya dalam bahasa yang populer dan
komunikatif.Artikel analisis ahli mengupas secara tajam dan mendalam suatu
persoalan yang sedang menjadi sorotan dan bahan pembicaraan hangat masyarakat.Topik
yang diangkat dan dibahas macam-macam, seperti ekonomi, politik, pendidikan,
sosial, agama, budaya, industry dan iptek.
Beberapa surat kabar besar di Indonesia, menyediakan ruangan
khusus untuk artikel analisis ahli ini dalam halaman-halaman berita atau
halaman-halaman dan rubrik khusus tertentu mereka. Salah satu tujuannya antara
lain, mendekatkan pokok masalah yang sedang disorot dalam berita sebagai suatu
persoalan yang mengandung pertanyaan, dengan tinjauan pakar di bidang yang sama
yang memberikan penjelasan dan jawaban kepada sidang pembaca.
5.
Kolom
Kolom adalah opini singkat seseorang yang lebih banyak
menekankan aspek pengamatan dan pemaknaan terhadap suatu persoalan atau keadaan
yang terdapat dalam masyarakat.Kolom, berasal dari bahasa Inggris, column.Orangnya disebut columnist. Dalam bahasa Inggris, istilah
columnis diartikan sebagai penulis
karangan khusus berupa komentar, saran, informasi, atau hiburan, pada surat
kabar atau majalah secara reguler.
Dalam bahasa
Indonesia, Anton Moeliono menjelaskan arti kolumnis sebagai penulis yang
menyumbangkan artikel pada surat kabar atau majalah secara tetap.[17]Jadi
kolom adalah sebuah rubrik khusus yang berisi karangan dan tulisan pendek yang
berisikan pendapat tentang suatu masalah.
6.
Surat Pembaca
Surat pembaca adalah opini singkat yang ditulis oleh pembaca
dan dimuat dalam rubrik khusus surat pembaca. Surat pembaca biasanya berisi
keluhan atau komentar pembaca tentang apa saja yang menyangkut kepentingan
dirinya atau masyarakat. Panjang surat pembaca rata-rata dua sampai empat
paragraf. Rubrik surat pembaca merupakan layanan publik dari pihak redaksi
terhadap masyarakat.[18]
Dalam rubrik ini, pembaca boleh menuliskan apa saja dan
ditujukan kepada siapa saja. Syaratnya antara lain pembaca harus menyertakan
fotokopi kartu tanda penduduk (KTP) atau identitas lain yang masih berlaku
seperti fotokopi surat izin mengemudi (SIM) atau kartu mahasiswa. Topik yang
dibahas sangat bervariasi, misalnya tentang telepon umum yang tidak berfungsi,
jalan berlubang, layanan petugas kantor-kantor pemerintah yang buruk, kinerja
dan layanan pihak perusahaan atau badan dan organisasi yang mengecewakan, atau
makin banyaknya tayangan acara pada televisi yang dianggap menonjolkan sisi
pornografi, kekerasan, dan sadisme.[19]
Jadi
surat pembaca adalah opini singkat yang ditulis pembaca dan
dimuat khusus pada rubrik khusus surat pembaca. Biasanya berisi komentar atau
keluhan pembaca tentang apa saja yang menyangkut kepentingan dirinya dan
kepentingan masyarakat. Panjang surat pembaca rata-rata 2 sampai 4 paragraf.
Rubrik surat pembaca lebih merupakan layanan publik dari pihak redaksi terhadap
masyarakat.
[1]Hikmat Kusumaningrat, Purnama Kusumaningrat, Jurnalistik Teori dan Praktik, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2006), hal. 15.
[3] Onong Uchjana, Effendy, Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek, (Bandung: Remaja Karya, 1986), hal. 96.
[4] Ahmad, Y Samanto, Jurnalistik Islam, (Jakarta: Harakah, 2002), hal. 64.
[7] Juwito, Menulis Berita dan Features, (Surabaya: Unesa University Press, 2008), hal. 5.
[8] Ibid,……., hal. 6.
[9] Ibid,……., hal. 6.
[10] Juwito, Menulis Berita dan Features………., hal. 6.
[11] Ibid,…….., hal. 6.
[12] Ibid,……, hal. 1-4.
[13] Juwito, Menulis Berita dan Features………., hal. 9.
[14] Sumadiria, AS Haris, Menulis Artikel dan Tajuk Rencana: Paduan PraktisPenulis dan Jurnalis Profesional,……., hal. 3.
[15] Juwito, Menulis Berita dan Features………., hal. 10
[16] Kustadi Suhandang, Pengantar Jurnalistik: Seputar Organisasi, Produk dan Kode Etik, (Bandung: Nuasa, 2004), hal. 62.
[17] Kustadi Suhandang, Pengantar Jurnalistik: Seputar Organisasi, Produk dan Kode Etik,……., hal. 162
[18] Kustadi Suhandang, Pengantar Jurnalistik: Seputar Organisasi, Produk dan Kode Etik,…… hal. 163.
[19]Ibid,…..hal. 163.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar